Asal Tahu, Dagangan Ini Selalu Hadir di Setiap Perayaan Sekaten

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Selasa, 13 Nov 2018 16:36 WIB
Pedagang di Sekaten Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Prosesi sekaten di Solo resmi dimulai hari ini setelah gamelan dibunyikan untuk pertama kali, Selasa (13/11/2018). Para pedagang kinang dan telur asin pun mulai meramaikan halaman Masjid Agung Surakarta.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, halaman Masjid Agung memang dikhususkan bagi pedagang khas sekaten. Selain kinang dan telur asin, ada pula mainan khas seperti pecut dan gasing kayu.

Menurut Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, makanan dan mainan tersebut memiliki makna dan petuah simbolis leluhur. Misalnya kinang yang terdiri dari lima unsur melambangkan rukun Islam.

"Ada telur asin, kalau bahasa Jawanya endhog kamal. Jadi hidup itu yang penting amalnya. Untuk menjalaninya, kita butuh penyemangat yang dilambangkan pecut," katanya di halaman masjid.
Asal Tahu, Dagangan Ini Selalu Hadir di Setiap Perayaan Sekaten(Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Di luar masjid pun masih banyak makanan dan mainan khas sekaten yang dijual di sekitar Alun-alun Lor. Misalnya jenang dodol, kapal othok-othok dan celengan.

"Celengan itu untuk menabung. Orang Jawa punya pepatah gemi setiti lan ngati-ati. Dengan menabung, diharapkan tahun depan bisa ke sekaten lagi," ujar Dipo.


Pedagang kinang asal Boyolali, Mbah Juli, mengatakan setiap tahun berjualan kinang dan telur asin di sekaten. Dia mengharapkan tambahan rezeki dari sekaten.

"Hari biasa jualan pakaian, kalau ambil barang di Klewer. Saat ada sekaten saya jualan kinang dulu, semoga tambah rezeki dan berkah," ujar Juli.
Asal Tahu, Dagangan Ini Selalu Hadir di Setiap Perayaan Sekaten(Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Selain itu, berbagai kuliner tradisional turut meramaikan sekaten. Sebut saja sate kere, nasi liwet, cabuk rambak, gendar pecel dan wedang ronde dapat dijumpai di halaman masjid.

Selain sebagai tradisi yang terus dilestarikan, diharapkan sekaten dapat menjadi tempat wisata budaya sekaligus religi bagi masyarakat. Sebab, bagaimanapun sekaten pada awalnya memang digunakan untuk syiar agama Islam.
Asal Tahu, Dagangan Ini Selalu Hadir di Setiap Perayaan Sekaten(Foto: Bayu Ardi Isnanto)

Pengin melihat dan menikmati langsung, silakan datang ke Sekaten di Kompleks Masjid Agung Surakarta. (bai/mbr)