Ini Dia Jenis Genderuwo yang Menurut Sudirman Said Harus Diwaspadai

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Minggu, 11 Nov 2018 16:30 WIB
Sudirman Said di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Politik Genderuwo sedang ramai diberbincangkan bahkan menjadi saling berbalas puisi di kalangan politikus. Sudirman Said pun membawa bahan itu saat memberikan sambutan di depan relawan Prabowo-Sandi di Semarang.

Bertempat di Hotel Muria Semarang, Sudirman Said yang merupakan Direktur Materi Debat dan Kampanye Prabowo-Sandi memberikan sambutan dalam acara deklarasi Relawan Padi. Dalam sambutannya, Sudirman mengajak para relawan tidak perlu terhanyut isu-isu yang berhubungan dengan ungkapan sontoloyo dan genderuwo.

"Diajak misuh-misuh soal Boyolali, Brebes, apa, jangan ikut, itu bukan isu utama. Kalau ada kata-kata gotoloco, genderuwo, apa, tidak usah ikut. Kalau ada kata-kata Sontoloyo tidak usah ikut," kata Sudirman, Minggu (11/11/2018).

Sudirman memang tidak menyebutkan nama, tapi dia mengumpamakan seperangkat komputer, maka mulut adalah printer, sehingga pikiran orang yang mengucapkannya seperti CPU yang kurang beres.


"Kalau barang itu komputer, mulut itu printer. Kalau yang keluar sontoloyo, gotoloco, genderuwo, pengelolaannya ada yang tidak beres," ujarnya.

Ia juga menyebutkan beberapa jenis hal yang dianalogikan dengan genderuwo termasuk genderuwo ekonomi dan genderuwo intelijen. Di akhir acara, Sudirman menjelaskan terkait genderuwo yang ia paparkan ke Relawan Padi.


"Genderuwo kan tidak tampak tapi dirasa menakutkan, jadi bisa berasal dari mana saja, kemarin Pak Sandi bicara soal genderuwo ekonomi," pungkas Sudirman.

Mantan menteri ESDM itu juga menjelaskan fenomena genderuwo bisa terjadi di berbagai lini mulai dari politik ekonomi, hingga hukum. Oleh karena itu ia sepat menyebut soal genderuwo intelejen.

"Jangan lupa ada genderuwo hukum juga. Orang-orang yang harus netral kemudian menggunakan kewenangan untuk menekan. Itu bisa datang dari aparat keamanan, aparat hukum, aparat intelijen. Pemilu ini bisa baik hasilnya kalau aparat netral. Kita berikan warning kepada masyarakat, hati-hati dengan sikap seprti itu, sikap genderuwo bisa dilakukan siapapun, jadi bukan soal politik, hukum, ekonomi, dan penegakkan hukum," terang Sudirman.


"Politik Genderuwo" mulai marak diperbincangkan setelah Presiden Joko Widodo menyebutnya saat berpidato dalam acara pembagian sertifikat tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018) lalu.

"Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut, yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat menjadi, memang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga menjadi ragu-ragu masyarakat, benar nggak ya, benar nggak ya," kata Jokowi saat itu.

"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar, kan? Itu sering saya sampaikan, itu namanya 'politik genderuwo', nakut-nakuti," lanjut Jokowi. (alg/sip)