Mahasiswa Papua di Yogya Mengaku Terancam, Ini Respons Sultan

Usman Hadi - detikNews
Kamis, 04 Okt 2018 16:58 WIB
Aksi mahasiswa Papua di Yogya (Foto: Usman Hadi/detikcom)
Yogyakarta - Pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di DIY menggelar aksi di depan Kantor gubernur DIY. Mereka mengaku sering menerima kekerasan. Benarkah? Lalu apa respons Sultan HB X?

"Dalam 10 tahun terakhir, puluhan kasus kekerasan yang menimpa pelajar dan mahasiswa Papua di DIY. Tidak satupun kasus tersebut yang diselesaikan secara tuntas," kata Presiden Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di DIY, Aris Yeimo, Kamis (4/10/2018).

Karena terkesan dibiarkan, lanjut Aris, akhirnya banyak kasus serupa terus bermunculan. "Baru-baru ini saja dalam waktu kurang dari dua bulan terakhir terjadi rentetan kasus yang mengganggu keamanan dan kenyamanan pelajar dan mahasiswa Papua di DIY," lanjutnya.
Mahasiswa Papua di Yogya Mengaku Terancam, Ini Respons SultanAksi mahasiswa Papua di Yogya (Foto: Usman Hadi/detikcom)

Dia menyebut ada kasus penodongan menggunakan senjata api dan senjata tajam pada 8 Agustus lalu, kasus penusukan pada 12 September, perampasan sepeda motor dan pemerasan pada 21 September dan kasus pembacokan pada akhir September.

"Kami juga meminta kepolisian bersikap adil dalam mengusut kasus yang menimpa pelajar dan mahasiswa Papua. Berantas premanisme di DIY, dan berikan jaminan serta ruang kebebasan kepada kami," pungkas dia.
Mahasiswa Papua di Yogya Mengaku Terancam, Ini Respons SultanAris Yeimo (Foto: Usman Hadi/detikcom)

Terpisah Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yulianto, menampik pernyataan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua tersebut. Menurutnya, sejumlah kasus kekerasan yang dialami mahasiswa Papua di DIY selalu diusut.

"Penganiayaan yang TKP-nya di Babarsari pelakunya sudah ditangkap. Kemudian kasus yang di Timoho (pelakunya) juga sudah ditangkap. Semua laporan pasti ditindaklanjuti. Siapapun pelapornya," tegasnya.

Sementara itu raja yang juga gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, enggan memberikan tanggapan terlalu jauh mengenai keluhan para mahasiswa Papuan tersebut. Namun demikian, Sultan menilai tidak mungkin ada kelompok tertentu menjadi sasaran kekerasan tanpa ada penyebabnya.

"Kekerasan itu sepihak atau memang ada masalah di antara oknum-oknum yang ada. Saya kan enggak tahu. Masak masak tidak apa-apa terus (mengalami) kekerasan, kan juga enggak mungkin," tutupnya.




Tonton juga 'Bentrokan Warga di Oksibil Papua, Puluhan Rumah Terbakar':

[Gambas:Video 20detik]

(mbr/mbr)