DetikNews
Rabu 03 Oktober 2018, 12:21 WIB

Gempa dan Tsunami yang Terjang Sulteng Merusak 2.736 Sekolah

Ristu Hanafi - detikNews
Gempa dan Tsunami yang Terjang Sulteng Merusak 2.736 Sekolah Mendikbud Muhadjir Effendy di Sleman. Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Sleman - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat sebanyak 2.736 sekolah di Sulawesi Tengah (Sulteng) rusak pascagempa dan tsunami pada 28 September 2018. Ribuan sekolah rusak tersebar di Palu, Donggala, Sigi dan beberapa titik lainnya.

"Sekolah terdata 2.736 sekolah yang terdampak mulai dari kerusakan ringan sampai hancur total. Di Palu, Donggala, dan lebih banyak di Sigi," kata Mendikbud Muhadjir Effendy ditemui di sela menghadiri Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia 2018 di Sahid J-Walk Mall, Sleman, Rabu (3/10/2018).

Muhadjir menjelaskan sesuai aturan seperti yang sudah diterapkan dalam penanganan gempa di Aceh dan Lombok, untuk perbaikan sekolah rusak merupakan kewenangan Kementerian PUPR. Sedangkan Kemendikbud akan menangani perbaikan sekolah yang rusak ringan.


"Pembangunan sekolah rusak karena bagian dari infrastruktur, akan ditangani Kementerian PUPR. Sedangkan rehabilitasi ringan akan dipegang Kemendikbud," terangnya.

Muhadjir memperkirakan proses perbaikan sekolah di Sulteng butuh waktu sekitar satu tahun.

"Seperti di NTB, target kita setahun," imbuhnya.

Untuk itu Kemendikbud akan segera mendirikan kelas darurat di beberapa lokasi. "Sabtu besok saya ke sana (Sulteng) untuk mengecek langsung ke lapangan, kita akan cek tingkat kerusakannya kemudian kita prioritaskan untuk KBM harus segera dimulai apapun kondisinya," kata Muhadjir.


"Karena itu kelas darurat dalam bentuk tenda standar UNICEF akan kita utamakan," lanjutnya.

Muhadjir menargetkan kelas darurat bisa mulai berjalan secepatnya. Dia berharap mental anak-anak tidak semakin terjatuh pascabencana.

"Apalagi kalau anak-anak tidak segera dipanggil diajak masuk sekolah, akan susah untuk kembalikan kembali ke sekolah, apalagi yang kelas 1 SD," jelasnya.

"Yang penting dia masuk sekolah dulu, kalau KBM belum optimal, bisa diisi kegiatan rekreatif menghibur sambil pulihkan kondisi psikologis," ujarnya.

Muhadjir menambahkan kelas darurat nantinya akan didirikan di dekat dengan sekolah asal.

"Sehingga secara psikologis mereka sudah kembali bersekolah meski masih berada di kelas darurat. Kalau terpaksa, bisa dibangun di daerah pengungsian, tapi diprioritaskan di dekat dengan sekolah asal," terang Muhadjir.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed