DetikNews
Kamis 20 September 2018, 09:32 WIB

Tumplek Blek, Ribuan Warga Antre Nasi Buka Luwur di Menara Kudus

Akrom Hazami - detikNews
Tumplek Blek, Ribuan Warga Antre Nasi Buka Luwur di Menara Kudus Warga antre nasi berkat di halaman Menara Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Ribuan orang warga memadati kompleks Menara Kudus di Kauman, Kecamatan Kota, Kudus pagi ini. Mereka mengantre memperebutkan nasi berkat, yang merupakan rangkaian Buka Luwur Makam Sunan Kudus.

Pantauan detikcom di lokasi, Kamis (20/9/2018) warga mulai berjubel antre selepas subuh. Sampai sekitar pukul 08.00 WIB, antrean warga masih padat. Panitia membagi barisan pria dan perempuan secara terpisah. Hal itu untuk memudahkan pembagian nasi yang dibungkus daun jati itu.

Tradisi yang diselenggarakan 10 Muharram ini merupakan agenda rutin setiap tahun. Tradisi Buka Luwur, merupakan ritual keagamaan yang menandai penggantian kelambu di Makam Sunan Kudus.

Nasi berkat tradisi Buka Luwur. Nasi berkat tradisi Buka Luwur. Foto: Akrom Hazami/detikcom

Sunandar, seorang warga asal Desa Bae, Kecamatan Bae, mengaku baru pertama antre agar mendapatkan nasi berkat. Pada tahun sebelumnya, dia penasaran dan belum sempat ikut antre.

"Baru tahun ini bisa ikut. Saya sempatkan antre biar dapat nasi berkat. Tak peduli berdesakan di dalam antrean," kata pria 35 tahun di lokasi antre nasi berkat.

Warga mempercayai, nasi bungkus yang diperoleh dari prosesi Buka Luwur akan membawa berkah bagi kehidupan. Sejumlah warga yang mendapatkan tampak semangat menyantapnya bersama rekan-rekannya.

Warga antre nasi berkat di halaman Menara Kudus.Warga antre nasi berkat di halaman Menara Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom

Warga juga ada yang memanfaatkan nasi tersebut untuk bahan campuran makanan ayam atau ternak lain dengan harapan tidak mudah terserang penyakit.

Sejumlah anak juga ikut antre berebut nasi berkat. Di antaranya adalah Abdul Rozak, warga Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Dia bersama temannya sengaja berangkat lebih awal setelah subuh biar dapat nasi.

"Antre tadi habis subuh. Lumayan ini sudah dapat nasi berkat. Rencana mau saya makan sendiri," kata Rozak.

Bayu Aji, pengantre lain, warga Garung Lor, mengaku memang sengaja berebut nasi berkat di acara rutin ini.

"Saya akan bawa pulang nasinya. Bareng sama keluarga," katanya.

Warga antre nasi berkat di kompleks Menara Kudus.Warga antre nasi berkat di kompleks Menara Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom

KH. Em Nadjib Hassan, Ketua Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) mengatakan, hari ini berlangsung pembagian nasi berkat umum, yang sudah dimulai setelah salat subuh.

"Antrean bekat dibagi dua, yaitu putra dan putri. Pada tahun ini, yang dibagikan untuk umum adalah sebanyak 29.032 bungkus. Berkat tersebut berupa nasi dan daging dengan olahan uyah asem, dibungkus dengan daun jati dan diikat tali agel," kata Nadjib.

Selain berkat atau brekat umum, juga dibagikan berkat keranjang untuk para tamu undangan sebanyak 2.498 keranjang. Semua bungkusan berkat tersebut diolah dari 11 ekor kerbau dan 84 ekor kambing.

Adapun beras yang dimasak sebanyak 6.760 kg, dari total beras sodakoh sebanyak 12.126 kg. Kerbau, kambing dan beras tersebut kesemuanya berasal dari sedekah masyarakat.

Pembuatan luwur kali ini membutuhkan 15.032 meter mori dan 110 meter vitrage, yang kesemuanya telah dibuat dan dipasang seluruhnya. Sama halnya dengan beras dan hewan, mori tersebut juga berasal dari sedekah masyarakat.

Buka luwur adalah ritus kolosal, yang pada tahun ini melibatkan 1.175 perewang, dan 10.095 masyarakat tercatat memberikan sedekahya pada Buka Luwur kali ini.

"Ritus ini dinamakan Buka Luwur, dan bukan khaul sebagaimana lazimnya di tempat lain, karena memang hingga saat ini belum ditemukan tanggal pasti wafatnya Kangjeng Sunan Kudus," terangnya.

Makna utama pelaksanaan buka luwur adalah untuk meneladani sosok dan perjuangan Kangjeng Sunan Kudus, yang menyebarkan Islam dengan jalan damai serta mengembangkan kebudayaan lokal.

"Selain itu, buka luwur juga menjadi media refleksi untuk melestarikan peninggalan Kangjeng Sunan Kudus, tangible maupun intangible, utamanya ajaran tepa selira atau toleransi yang saat ini sangat dibutuhkan bangsa Indonesia," pungkasnya.

Acara ini dihadiri ratusan undangan khusus dari ulama, tokoh masyarakat, instansi pemerintahan, serta perwakilan anggota Perhimpunan Pemangku Makam Auliya' (PPMA) Se-Jawa.

Ulama yang hadir di antaranya adalah KH Syaroni Achmadi, KH M Ulil Albab Arwani, KH Arifin Fanani, KH Hasan Fauzi, KH Noor Halim, dan sederet ulama lainnya, dari Kudus dan sekitarnya.

Pembacaan doa Yaumul Asyuro dalam acara ini dipimpin oleh KH Syaroni Achmadi, dilanjutkan dengan pemasangan luwur ranjam di cungkup makam Kangjeng Sunan Kudus, dan ditutup dengan tahlil.




Tonton juga 'Tak Terima Ditilang, Emak-emak di Kudus Ini Gigit Polisi':

[Gambas:Video 20detik]


(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed