Ungkap Alasan Tolak Istilah Emak-emak, Kowani: Bukan karena Jokowi

Pertiwi - detikNews
Rabu, 19 Sep 2018 19:39 WIB
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubiyanto. Foto: Pertiwi/detikcom
Magelang - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubiyanto, kembali angkat bicara terkait penolakannya pada istilah emak-emak. Dirinya memang menyampaikan penolakan tersebut saat memberikan sambutan pada acara sidang ke-35 International Council of Woman (ICW) di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

"Istilah emak-emak itu artinya hanya seorang ibu saja yang tugasnya hanya melahirkan, mengurus anak, ngurus keluarga," ujar Giwo, di sela kunjungan delegasi ICW ke Borobudur, Rabu (19/9/2018).

Sementara bagi Kowani, perempuan atau wanita Indonesia adalah seorang ibu bangsa. Wanita yang mampu berperan di masyarakat, lingkungan, dan bermanfaat bagi bangsa serta negara.

"Yang kita harapkan adalah seorang ibu bisa berperan dan bisa menjadi kebanggaan bagi anak-anak, bisa jadi role model," kata Giwo.


Selain itu, istilah Ibu Bangsa sudah lahir sejak dilakukan kongres wanita pada tahun 1935, sebelum Indonesia merdeka.

"Kita mendapatkan amanah dari founding mother untuk meningkatkan harkat martabat kaum wanita. Bahwa kita harus berkarakter," tuturnya.

Giwo mengaku tidak habis pikir dengan pendapat beberapa pihak yang menilai penolakan Kowani atas istilah emak-emak karena keberadaan Presiden Jokowi dalam pembukaan sidang ICW.


"Sejak zaman Pak Jokowi belum lahir, istilah Ibu Bangsa sudah ada, itu trademark kongres perempuan. Bagaimana bisa dibilang karena kehadiran Jokowi kemudian kita menolak istilah emak-emak," katanya.

Giwo pun meminta agar istilah emak-emak bisa diganti ibu bangsa. Termasuk juga harapannya agar perempuan tidak dijadikan bahan politik.

"Jangan mau kalau perempuan dipolitisir. Kowani tidak berpolitik," tandasnya. (sip/sip)