DetikNews
Sabtu 18 Agustus 2018, 16:37 WIB

Selain Cantik, Rumah 'Tahi Sapi' Juga Disebut Berkawan dengan Gempa

Ristu Hanafi - detikNews
Selain Cantik, Rumah Tahi Sapi Juga Disebut Berkawan dengan Gempa Rumah dari kotoran sapi di Sleman. Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Sleman - Arsitektur bangunan rumah milik Iswanti (49), yang berada di Taman Pabrik, Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman terbilang unik. Iswanti memanfaatkan kotoran sapi atau tletong sebagai perekat dinding pengganti semen. Mayoritas material rumahnya memang berbahan organik seperti tanah hingga jerami, tidak memakai besi maupun beton.

Dan jika dilihat, rumah Iswanti yang terdiri dari dua bangunan masing-masing berbentuk dome, sangat kontras jika dibandingkan dengan rumah penduduk sekitar. Ternyata, Iswanti bersiap diri dengan potensi bencana gempa bumi.

Lokasi rumahnya memang tergolong rawan gempa. Pada tahun 2006 silam, daerah setempat terdampak gempa bumi Bantul dan tidak sedikit rumah-rumah penduduk sekitar yang roboh.

"Konsep rumah saya earthbag house, pakai bahan organik untuk sebagian besar materialnya. Dan memakai teknik superadobe bag, dinding bangunan pakai karung berisi tanah, bukan konstruksi besi dan beton," kata Iswanti, saat ditemui detikcom di rumahnya, belum lama ini.

Iswanti yang sebelumnya tinggal di Jakarta, pada tahun 2010 mencari lahan untuk membangun rumah di wilayah Sleman. Akhirnya dia memilih lokasi di Taman Pabrik, daerah yang tidak jauh berada di sisi utara kompleks Candi Prambanan.

Rumah dari kotoran sapi di Sleman. Rumah dari kotoran sapi di Sleman. Foto: Ristu Hanafi/detikcom

"Daerah ini rawan gempa, jadi saya bangun bentuk dome karena relatif solid terhadap getaran, dengan teknik superadobe bag. Pondasi rumah digali sedalam 30 cm, lalu diisi campuran pasir dan krakal, untuk meredam getaran. Dan di atasnya dikasih karung berisi tanah, dipasang memutar berbentuk dome. Tanahnya setengah basah, karena saat kering nanti kekuatannya cukup, seperti batu bata," jelasnya.

Total Iswanti membutuhkan tanah sekitar 30 truk untuk membangun rumahnya. Setelah karung selesai ditata dengan disisipi kawat duri sebagai pengait, lapisan dalam dinding diolesi kotoran sapi bercampur jerami dan kapur sebagai perekat. Sebelum dipakai, kotoran sapi lebih dulu dihilangkan gas dan dimatikan bakterinya agar higienis.

Kemudian bagian luar dilapisi semen tipis, berfungsi untuk menahan air hujan agar tidak merembes ke dalam rumah.

Untuk ventilasi cahaya, selain jendela, Iswanti memanfaatkan botol bekas. Guna mempercantik pandangan, botol dipilih berwarna-warni. Sedangkan bagian atap memakai bahan bambu, triplek, dan tebu, serta dilapisi pelat tipis serupa seng.


Karena berbahan organik, suhu dalam rumah cukup stabil. Selain itu dari sisi biaya, juga relatif murah dibandingkan memakai bahan besi dan beton. Tinggi bangunan rumahnya masing-masing sekitar 8 meter dengan diameter dalam sekitar 7,5 meter.

"Rumah ini saya bangun 2014 dan baru saya huni tahun 2017. Konsep ini cocok untuk masyarakat di pedesaan yang mungkin relatif sulit mencari material bangunan seperti rumah-rumah pada umumnya yang memakai besi dan beton. Karena ketika saya bangun rumah ini bukan mendatangi toko material bangunan, tapi datang ke peternak sapi, ke toko loak, tukang rongsok," jelasnya.

Iswanti menambahkan teknik superadobe bag ini sudah diterapkan di beberapa negara yang rawan gempa bumi. Dia mengaku memang mengadopsi teknik-teknik tersebut.

"Relatif pas untuk hunian di daerah rawan gempa. Teknis superadobe bag ini sudah diterapkan di pedesaan beberapa negara, seperti di India, Haiti, dan Bangladesh," sambung perempuan kelahiran Solo ini.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed