DetikNews
Kamis 16 Agustus 2018, 12:11 WIB

Mengenang Tragedi Bumi Hangus Belanda di Pelataran Merapi

Ristu Hanafi - detikNews
Mengenang Tragedi Bumi Hangus Belanda di Pelataran Merapi Pengibaran bendera raksasa di Lereng Merapi (Foto: Ristu Hanafi/detikcom)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Sleman - Berlatar belakang puncak Gunung Merapi, bendera berukuran 9x6 meter tampak gagah berkibar di tiang setinggi 17 meter. Di lokasi tersebut, Belanda pernah menyerbu dan membakar rumah-rumah penduduk. Pimpinan desa dan sejumlah warga ditangkap lalu dieksekusi mati.

Warga Cangkringan, Sleman, menggelar upacara pengibaran bendera merah putih berukuran raksasa di Bukit Klangon, Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo. Upacara pengibaran bendera ini dipimpin oleh Komandan Kodim 0732/Sleman, Letkol (Inf) Diantoro. Pesertanya pelajar, mahasiswa, masyarakat, perangkat pemerintahan, TNI, Polri, dan relawan.

"Kegiatan ini untuk menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus besok. Kita ambil momentum sehari sebelumnya dengan melaksanakan upacara pengibaran bendera," kata Letkol Diantoro, seusai upacara, Kamis (16/8/2018).
Mengenang Tragedi Bumi Hangus Belanda di Pelataran MerapiFoto: Ristu Hanafi/detikcom

Dipilihnya Bukit Klangon yang berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Merapi sebagai lokasi upacara bukan tanpa alasan. Diantoro menyebut wilayah Cangkringan pernah terjadi peristiwa bersejarah.

"Pada Maret 1949, di Cangkringan terjadi pertempuran melawan Belanda. Peristiwa tersebut kita jadikan momentum untuk mengenang jasa para pahlawan. Kita harapkan generasi muda dengan semangat para pendahulu kita, bisa mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif dan menjadikan Indonesia menjadi bangsa besar," jelas Diantoro.

Pertempuran yang dimaksud yakni peristiwa penyerbuan oleh tentara Belanda di sekitar Desa Argomulyo, Cangkringan. Pasukan Belanda saat itu membakari rumah-rumah penduduk. Pasukan Belanda juga menangkap Kades Argomulyo, Suharjo dan carik desa, Sukarman. Keduanya ditembak di persawahan dan gugur. Selain itu 8 orang penduduk juga gugur.


Setelah peristiwa tersebut, pasukan laskar rakyat dan Kader Akademi Militer yang dipimpin Kolonel Jatikusumo, Kolonel Perngadi dan Letnan Sardjono menyerang Belanda. Dari pihak Belanda banyak jatuh korban dan akhirnya mundur ke Kaliurang.

Sebelum terjadi penyerbuan di Argomulyo, pasukan Belanda menyisir kampung penduduk. Terjadi pertempuran sengit dengan penduduk yang melawan bersama laskar rakyat. Dalam peristiwa itu Bapak Wanayik atau Sayid Barnadian dari laskar rakyat gugur tertembak Belanda di barat lapangan Jabalkat dan dimakamkan di Dusun Duwet Wukirsari, Cangkringan.
Mengenang Tragedi Bumi Hangus Belanda di Pelataran MerapiFoto: Ristu Hanafi/detikcom

Pertempuran melawan Belanda juga terjadi di wilayah Sleman lainnya, di antaranya di Sambilegi Maguwoharjo, Prambanan, Ngaglik, Tempel, Minggir, Mlati, Turi, Seyegan, Berbah, Pakem, dan Gamping.

"Rentetan peristiwa pertempuran itu menunjukkan bahwa dengan nilai-nilai kejuangan, semangat pantang menyerah, dan rela berkorban akhirnya dapat mengalahkan tentara Belanda yang memiliki peralatan perang yang modern," imbuh Diantoro.


Dia berpesan kepada generasi penerus bangsa bahwa saat ini musuh Indonesia bukan lagi ancaman perang, namun tantangannya adalah bagaimana mewujudkan kesejahteraan rakyat dan mengatasi permasalahan kebangsaan lainnya.

"Akan tetapi yakinlah dengan persatuan dan kesatuan, dilandasi nilai-nilai kejuangan, semangat dan rela berkorban, serta keteladanan dari para pemimpin, insyaallah permasalahan itu dapat teratasi," pungkasnya.
(mbr/mbr)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed