Cerita Ganjar Pranowo yang Dibully Gara-gara Tiwul

Eko Susanto - detikNews
Rabu, 08 Agu 2018 14:12 WIB
Ganjar Pranowo di IAIN Salatiga. Foto: Eko Susanto/detikcom
Salatiga - Di hadapan 3.059 mahasiswa baru IAIN Salatiga, Ganjar Pranowo bercerita dirinya dibully di media sosial gara-gara tiwul. Ia pun kemudian meminta mahasiswa untuk maju yang bisa menjelaskan cara membuat tiwul, makanan tradisional terbuat dari singkong.

"Saya kemarin sehari dibully di medsos. Gara-gara tiwul," kata Ganjar dalam acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018 IAIN Salatiga, Rabu (8/8/2018).

Saat Ganjar menyebut kata tiwul dalam program 'Gubernur Mengajar' tersebut, ribuan mahasiswa pun riuh.

"Ada yang tahu tiwul?" kata Ganjar.

Mahasiswa pun ramai-ramai menjawabnya, "Tahu!"

"Angkat tangan yang tahu. Siapa bisa menjelaskan cara membuat tiwul," ucap Ganjar.

"Yang tidak punya handphone tadi ngacung? Coba yang tidak punya handphone itu bisa menjelaskan kepada saya, tiwul atau tidak?," pintanya.

"Kamu, Bro," kata Ganjar.

Salah seorang mahasiswa yang ditunjuk Ganjar, bernama Diki, kemudian maju menjelaskan perihal tiwul. Namun demikian dalam penjelasannya, mahasiswa ini dinilai belum menjelaskannya secara gamblang dan rinci.

Sementara itu, usai menyampaikan materi dalam 'Gubernur Mengajar', Ganjar memang sempat ditanya perihal ajakan kepada mahasiswa untuk mengetahui diversifikasi makanan. Ganjar mengaku terinspirasi karena dia sempat dibully di media sosial lgara-gara tiwul.

"Saya terinspirasi kemarin saja, orang membully saya soal tiwul, seolah-olah tiwul kok nggak boleh," ujarnya.

"Bedakan tiwul dengan aking mungkin nggak tahu, saya mengajak diversifikasi karena makin banyak orang yang sudah sepuh sekarang mengurangi beras karena kandungan gulanya tinggi, maka dia berpindah ke kentang, berpindah ke singkong. Ketahanan pangan nasional sebenarnya bisa didorong dari potensi pangan yang ada di tempat kita," tuturnya.

Bahkan kata Ganjar, saat ini untuk bolu dari singkong sudah banyak. Kemudian, jagung dibuat mie dan lainnya.

"Bolu dari singkong sudah banyak ya. Jagung dibuat mie sudah banyak. Artinya apa, betapa kekayaan kita ini bisa diajarkan kepada generasi muda, generasi bangsa berikutnya, banyak sumber pangan yang bisa kita kelola tidak harus beras," pungkasnya. (sip/sip)