Asyiknya Menikmati Panen Kopi di Lereng Gunung Muria Kudus

Akrom Hazami - detikNews
Sabtu, 28 Jul 2018 17:51 WIB
Panen kopi di lereng Muria Kudus (Foto: Akrom Hazami/detikcom)
Kudus - Saat ini, petani kopi di pegunungan Muria di Ternadi, Dawe, Kudus, mulai panen. Tepatnya pada Juli 2018 ini. Biasanya, masa panen tanaman kopi berlagsung hingga September.

Pada bulan ini hingga September merupakan masa panen yang biasa dilakukan setiap tahun. Masing-masing lahan tidak dipanen secara serentak.

Mereka mengelola kebun kopi di lahan milik Perhutani. Dengan luasan total mencapai puluhan hektare di kawasan Ternadi. Satu di antara lahan kopi yakni di area gardu pandang di desa itu.

Seorang petani kopi desa setempat, Jumain, menuturkan saat ini petani sedang memasuki masa panen tanaman kopi. Ini ditandai dengan memerahnya biji kopi di dahan tanaman. Meski itu belum semua.

"Panen kali ini lumayan karena faktor cuaca yang membaik," kata Jumain ditemui sedang memetik biji kopi di lahannya," kata Jumain, Sabtu (28/7/2018).
Asyiknya Menikmati Panen Kopi di Lereng Gunung Muria Kudus(Foto: Akrom Hazami/detikcom)

Dengan lahan yang dikelolanya 1,5 hektare, dia bisa menghasilkan tanaman kopi hingga 5 ton atau naik 1,5 ton dibanding panen tahun lalu. Jenis kopinya adalah robusta yang mempunyai buah besar khas pengunungan Muria.

Adapun harga kopi usai dipanen, yang basah mencapai Rp 5.700 per kg dan kopi yang kering mencapai 23 ribu. "Saya jual hasil panen ke tengkulak," ujar pria yang jadi petani kopi sejak 5 tahun silam.

Rumain (50) seorang petani kopi dar Dukuh Surowono RT 4 RW 4, Desa Ternadi, mengatakan, pada bulan ini petani kopi di desanya panen. "Masa panen mulai awal Juli sampa September dan Oktober," kata Rumain di rumahnya.

Menurutnya, kualitas biji kopi Muria tidak kalah dengan produk biji kopi lain. Bahkan, kopi Muria juga dikirim ke kota lain seperti Temanggung. Kualitas kopi Muria di kalangan pecinta kopi khususnya, juga tak bisa dipandang sebelah mata
Asyiknya Menikmati Panen Kopi di Lereng Gunung Muria Kudus(Foto: Akrom Hazami/detikcom)

Pelaksan Harian Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Muria Patiayam KPH Pati, Nur Hamid, menjelaskan lahannya memang dimanfaatkan warga untuk menanam kopi. Warga itu tergabung di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tani Makmur Ternadi.

LMDH ini mengelola lahan kopi milik Perum Perhutani. Luasannya untuk lahan kopi sekitar 43 Ha dari total lahannya 126 Ha. Lahan 43 Ha adalah lahan produktif tanaman kopi.

"Kami dari Perhutani mendapat sharing atau bagi hasil 30%. Yang 70% diterima desa yang diwadahi LMDH Tani Makmur. Karena desa melakukan pemupukan, petik, panen, antar ojek, dan lainnya," terang Hamid di Ternadi.

Sejauh ini, produksi biji kopi di Ternadi mengalami peningkatan. Sejak 2017 peningkatan produksi kopi terus terjadi. Dia memperkirakan tahun ini akan naik. Setelah sebelumnya, pihaknya dengan desa melakukan kerja sama dalam bentuk ubinan atau taksasi kopi. "Jadi perencanaan produksi buah kopi. Tim dibentuk bersama," terangnya. (mbr/mbr)