DetikNews
Minggu 22 Juli 2018, 18:20 WIB

Umat Buddha Indonesia Ikuti Pembacaan Kitab Suci Tipitaka

Pertiwi - detikNews
Umat Buddha Indonesia Ikuti Pembacaan Kitab Suci Tipitaka Foto: Pertiwi/detikcom
Magelang - Ribuan Umat Buddha yang tergabung dalam Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) mengikuti pembacaan Tipitaka dan Pujabakti Agung Asadha 2562/2018 (Indonesia Tipitaka Chanting dan Asalha Mahapuja).

Kegiatan yang sudah masuk tahun ke empat ini merupakan upaya dalam melestarikan Dhamma ajaran Buddha untuk perdamaian dan kebahagiaan dunia.

"Tahun ini merupakan tahun keempat pelaksanaan pembacaan Tipitaka dan Pujabakti Agung Asadha. Bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya adalah sutta (ceramah ajaran Buddha) yang dibaca," jelas Ketua Panitia Pujabakti Agung Asadha 2562/2018, Bhikku Guttadhammo Thera, di Vihara Mendut, Minggu (22/7/2018).

Tipitaka Chanting sendiri merupakan acara pembacaan ulang teks kitab suci agama Buddha Pali yang tertulis dalam kitab suci Tipitaka. Dengan dilangsungkannya pembacaan dan kajian Tipitaka, umat Buddha Indonesia
diharapkan mampu memahami ajaran Buddha dan mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Tipitaka, kitab suci umat Buddha adalah sarana penuntun untuk berucap baik, bertindak baik dan berpikir baik. Hanya kebaikan-kebaikanlah yang dapat memperkokoh persatuan bangsa di tengah keberagaman kita,"
ungkap Guttadhammo.

Tahun ini, pembacaan Tipitaka diakhiri dengan puja besar Hari Raya Asadha (Asalha) 2562 di pelataran Candi Borobudur. Sebelumnya, umat Buddha dari berbagai daerah lebih dulu mengikuti prosesi puja berjalan
kaki Bhakti Yatra (Devitional Walk) dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur.

Asadha (Asalha) adalah hari raya umat Buddha setelah Waisak. Asadha adalah peringatan pertama kalinya Buddha Gautama mengajarkan ajaran Dhamma kepada lima siswa awal di Taman Rusa Isipatana India Kuno.

"Esensi dari ajaran yang beliau ajarkan pada Asadha ini sekaligus juga merupakan esensi keseluruhan ajaran Buddha adalah kebebasan dari penderitaan. Buddha mengajarkan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai
jalan untuk membebaskan dari penderitaan umat manusia," urainya.

Manifestasi pelaksanaan ajarab Buddha adalah munculnya pikiran-pikiran baik, ucapan baik, serta tindakan baik yang akan membuat dunia makin tenteram.

"Persatuan dan kesatuan bangsa akan makin kokoh jika setiap warganya mempunyai pengendalian diri yang baik dalam pikiran, ucapan, tindakan," pungkas Guttadhammo.


(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed