DetikNews
Kamis 19 Juli 2018, 14:59 WIB

Jompo dan Sendiri, Mbah Marinem Hanya Diurus Tetangga Bergiliran

Eko Susanto - detikNews
Jompo dan Sendiri, Mbah Marinem Hanya Diurus Tetangga Bergiliran Mbah Marinem, hidup sebatang kara di Kab Semarang (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Kabupaten Semarang - Mbah Marinem (75 tahun), tinggal sendirian di rumah nyaris roboh di Dusun Krajan Kidul RT 02/RW 02, Sumberejo, Pabelan, Kabupaten Semarang. Kondisinya lemah dan tak terlacak lagi sanak saudaranya. Tiap harinya warga secara bergiliran mengirimnya makan dan minum.

Mbah Marinem bukan warga setempat dan tidak memiliki saudara di desa setempat. Rumah seadanya yang dihuni sekarang ini dulunya dibangunkan warga setempat di lahan milik salah satu warga. Di sekitarnya ditumbuhi rumpun-rumpun bambu.

Di dalam rumah, hanya ada tempat tidur seadanya dan barang-barang usang yang berserak. Rumah tersebut terasa penggap, gelap dan bau pesing karena kondisi Mbah Marinem yang sakit-sakitan dan sering buang air di dalam rumah.
Jompo dan Sendiri, Mbah Marinem Hanya Diurus Tetangga BergiliranRumah yang dihuni Mbah Marinem (Foto: Eko Susanto/detikcom)

"Niki awake lara. Rasane adhem, ora duwe tunggal (Badannya sakit. Rasanya dingin, tidak punya saudara)," kata Mbah Marinem saat detikcom mengunjunginya, Kamis (19/7/2018).

Salah satu warga setempat, Eni Malikah (38), mengatakan untuk kebutuhan makan dan minum Mbah Marinem, setiap harinya warga bergantian memberikannya. "Warga secara bergantian memberikan makan dan minuman. Tiap hari rata-rata tiga kali," kata Eni ditemui usai mengirim makanan untuk Mbah Marinem.


Hal senada diungkapkan, Giyem (50), warga setempat. Menurutnya, warga sangat perhatian sekali dengan kehidupan Mbah Marinem yang sebatang kara tanpa sanak saudara. "Ada jadwal bergantian memberikan makan dan minuman kepada Mbah Marinem," tuturnya.
Jompo dan Sendiri, Mbah Marinem Hanya Diurus Tetangga BergiliranSeorang warga menyapa Mbah Marinem (Foto: Eko Susanto/detikcom)

Kepala Dusun Krajan Kidul, Zaenuri mengatakan, pihaknya pernah berusaha mencari sanak kerabat Mbah Marinem, namun sejauh ini tidak pernah membuahkan hasil.

Terpisah, Kepala Desa Sumberejo, Salim Riyanto, memaparkan, Mbah Marinem datang ke dusun tersebut menempati sebuah gubuk, lalu oleh warga dibuat rumah kecil yang kondisinya layak. Namun rumah itupun kini sudah mengalami kerusakan termakan usia.

Dulu Mbah Marinem sering mencari makan dengan meminta-minta di Kota Salatiga, namun seiring usia kini dia tak lagi bisa kemana-mana sehingga sepenuhnya ditanggung warga secara bergiliran.
Jompo dan Sendiri, Mbah Marinem Hanya Diurus Tetangga BergiliranTerpencil di bawah rumpun bambu. (Foto: Eko Susanto/detikcom)

Pemerintah desa pernah berinisiatif mengirim Mbah Marinem ke panti jompo. Namun Mbah Marinem bertekad ingin menutup mata di dusun tersebut.

"Pihak panti jompo juga mensyaratkan warga yang diterima harus yang masih bisa makan dan mandi sendiri. Sedangkan Mbah Marinem kadang-kadang sudah tidak bisa apa-apa. Selain itu Mbah Marinem juga mangaku tidak betah hidup di panti, sehingga tidak diterima," ujarnya.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed