DetikNews
Kamis 19 Juli 2018, 12:50 WIB

Menyapa Mbah Siti yang Terabaikan oleh Berbagai Klaim Kepedulian

Wikha setiawan - detikNews
Menyapa Mbah Siti yang Terabaikan oleh Berbagai Klaim Kepedulian Mbah Siti di depan rumahnya di Jepara (Foto: Wikha Setiawan/detikcom)
Jepara - Di Kabupaten Jepara masih ditemukan warga kurang mampu yang belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Mereka bahkan hidup di rumah yang tidak layak huni, hingga terpaksa menempati lahan irigasi.

Siti Sarofah, nenek berusia 75 tahun ini hidup sebatang kara di rumah gubug di Desa Teluk Wetan RT 10 RW 2, Kecamatan Welahan. Rumahnya 3x4 meter berdinding anyaman bambu. Untuk memasak, dia membuat tungku dari tanah di teras rumah bagian sudut.

Tiap harinya, Mbah Siti hanya bekerja sebagai buruh kerajinan parsel. Untuk mendapatkan uang Rp 10 ribu saja, dia harus menyelesaikan anyaman 100 buah parsel. Selama ini, dia mengaku hanya sekali mendapat bantuan beras warga miskin. Selain itu, tidak ada lagi.

"Tidak pernah ada bantuan. rumah saya seperti ini. Dulu saya beli Rp 300 ribu dan saya tempati sampai sekarang, sendirian," ujarnya dalam bahasa Jawa kepada detikcom di rumahnya, Kamis (19/7/2018).
Menyapa Mbah Siti yang Terabaikan oleh Berbagai Klaim KepedulianSendiri, menghidupi diri dari membuat keranjang parsel (Foto: Wikha Setiawan/detikcom)

Dia mengaku kerap dikunjungi perangkat desa dan petugas pemerintahan. Bahkan KTP-nya juga pernah dikumpulkam di balai desa setempat. "Rumah saya difto, KTP dibawa, tapi tidak tahu buat apa. Sampai sekarang saya hidup seperti ini. Memenuhi kebutuhan dari bayaran buat parsel, 100 buah dibayar Rp 10 ribu," paparnya.

Nasib kurang beruntung juga dialami Kartini, yang hidup di bangunan bekas dapur bersama suami dan dua anaknya. "Mau bangun rumah belum ada biaya. Bayaran bikin sulak (kemoceng) langsung habis buat belanja, malah kurang. Suami seminggu dapat Rp 250 ribu dari kerja kerajinan kursi rotan. Tidak pernah dapat bantuan (dari pemerintah)," imbuhnya.

Sementara, di Desa Gerdu Kecamatan Pecangaan belasan kepala keluarga terpaksa membangun rumah di atas lahan irigasi. Selamet, salah satu warga, mengatakan ada belasan kepala keluarga yang menempati lahan itu karena tidak mampu membeli lahan.

"Ya karena awalnya tidak punya rumah, tidak punya lahan. Akhirnya menempati lahan irigasi buat rumah. Saya sendiri di sini 2003. Bertambah ramai sampai sekarang ada belasan rumah. Pihak desa tidak melarang juga tidak mengiyakan. Mungkin belum ada solusi," paparnya.
Menyapa Mbah Siti yang Terabaikan oleh Berbagai Klaim KepedulianSalah satu sudut perkampungan di Jepara (Foto: Wikha Setiawan/detikcom)

Terpisah, Kabid Sosial Dinsosnakertrans Kabupaten Jepara, Joko Setyowanto, mengungkapkan seherusnya pihak desa berperan aktif melalukan pendataan terhadap warga kurang mampu.

"Data dari desa itu nantinya masuk dalam basis data terpadu. Setelah itu ditandatangani Bupati, baru diajukan ke pusat. Selanjutnya ada pengecekan dari masing-masing petugas per desa. Validasi data dilakukan dua kali dalam satu tahun," tuturnya.

Diakuinya, ketidaktepatan data memang kadang terjadi. Hal itu disebabkan salah satunya tenaga dari desa. Untuk bantuan PKH memang bersyarat, sesuai tujuan program yakni peningkatan kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan.

"Untuk bantuan usia lanjut tahun ini tidak ada. Itu sudah dari pusat. Sehingga pihak desa seharusnya berperan aktif," tandasnya.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed