Warga bersepakat melepas ular itu kembali ke sungai. Keputusan itu diambil warga dengan alasan untuk menghargai populasi ular yang kian langka. Selain itu, warga juga percaya akan terkena musibah jika membunuh atau menjual ular tersebut.
Salah seorang warga Desa Karangrandu, Subchan menceritakan bahwa ular itu memang kerap muncul di Sungai Karangrandu. Tidak semua orang dapat mengetahui kemunculannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang tahu pertama dan menangkap ular itu Pak Sukamto, penjual nasi kucing di depan pasar," ujarnya kepada detikcom di rumahnya, Rabu (18/7/2018).
Ular piton itu kemudian menjadi tontonan warga. Di bagian kepala, ular itu ditutupi sobekan karung supaya tidak membahayakan. Selanjutnya, ular itu dilepas lagi di sungai.
Dia menceritakan, beberapa warga pernah mengetahui kemunculan ular itu di sungai. Namun, tidak ada yang berani menangkap karena takut dan berada di sungai besar. Kali ini, ular itu muncul di sungai kecil dekat permukiman.
"Selam ini hanya muncul dan hilang lagi. Tidak pernah mengakibatkan hal-hal yang membahayakan. Petani yang sawahnya dekat sungai juga aman saja," paparnya.
Warga tidak pernah mencurigai ular itu memakan hewan peliharaan seperti ayam, angsa dan lainnya.
"Tidak. Tidak tahu kalau makan hewan peliharaan. Tapi tidak pernah ada keluhan," lanjutnya.
"(Ular dilepas lagi) Ya karena sama-sama ciptaan Allah. Ada yang usul mau dijual tapi tidak jadi, karena dulu pernah menangkap dan jual akhirnya ada musibah di desa. Tapi itu hanya kekhawatiran saja. Yang jelas hari ini bertepatan dengan pelaksanaan tradisi sedekah bumi di desa," tutur dia.
Sementara Sukamto hanya berkomentar singkat soal penemuan ular piton tersebut.
"Saya yang ambil. Saya lihat kurang jelas, tapi itu memang ular ukuran besar. Lalu, saya laporkan warga, terutama yang saat itu sedang membeli di angkringanku," ujar Sukamto. (sip/sip)











































