Batu di Sungai Rahtawu Kudus Dicat, Kades Perintahkan Hapus

Akrom Hazami - detikNews
Sabtu, 14 Jul 2018 19:09 WIB
Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Bebatuan sungai di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus dicat warna warni. Karena menuai protes, pemerintah Desa Rahtawu pun bereaksi yakni memerintahkan pengelola untuk menghapus cat di atas batuan tersebut.

Sugiono, Kepala Desa (Kades) Rahtawu mengatakan, pihaknya telah memerintahkan pengelola tempat wisata Kedung Gong yang mengecat batu kali untuk menghapus.

"Catnya di atas batu mulai dihapus," kata Sugiono kepada wartawan di Kudus, Sabtu (14/7/2018).

Menurut Sugiono, aksi pengecatan batu kali tidak izin kepada pemerintah desa. Pihaknya telah ke lokasi sungai yang batu kalinya dicat.

"Itu kan sebenarnya larangan. Sebelumnya juga orangnya tidak izin," ujarnya.

Dia menuturkan, Desa Rahtawu memiliki sekitar 20 obyek wisata. Ada yang dikelola pihak desa namun juga ada yang dikelola hak milik (HM). Di obyek wisata yang batunya dicat warna adalah dikelola hak milik.

"Itu milik warga kami bernama Santo. Lahannya HM atas nama Santo, tapi kalau sungainya itu masuknya Bina Marga," tambah Sugiono.

Secara terpisah, Santo, pemilik objek wisata Kedung Gong mengatakan, atas perintah pemerintah desa, dia menghapus cat di permukaan batu sungai.

"Ini sudah mulai dihapus," katanya.

Dia menuturkan, jika penghapusan cat warna di permukaan batu sungai ada yang bilang itu jelek. Dia heran kenapa pengecatan batu sungai dilarang.

"Saya bingung. Saya anut di daerah lain. Saya kan buka tempat wisata di kali," tambahnya.

Ada beberapa tempat wisata alam sepengetahuannya yang dicat. Dia pun mempraktikannya di Rahtawu yang merupakan desa rintisan wisata. Ternyata dicat malah dianggap salah dan dilarang.

"Tapi kalau batu digepuk (dihancurkan) tak dilarang. Kula bingung malah. Ini itu dunia terbalik. Sing ngrusak ora diproses (yang merusak tidak diproses), tapi sing (yang) memperindah malah diproses. Kula (saya) bingung," ungkap Santo.

Dia mengaku sebagai perintis desa wisata di Rahtawu. Dia memang bertekad memajukan Desa Rahtawu. Diakuinya usai dicat, tempat wisatanya langsung ramai.

"Banyak yang bilang malah luwih (lebih) bagus, pak," tambahnya.

Namun dengan adanya penghapusan cat di batu, sama saja dia kehilangan wisatawan. Kalau sebelum dicat, sangat sedikit.

"Kalau hari Minggu ribuan wisatawan. Termasuk paling ramai d tempat saya," ujarnya.

Dia telah mendirikan tempat wisata 5 tahun lalu. Sempat mendapat bantuan pemerintah tapi dulu. Sekarang tidak pernah. Dia cat sendiri dengan uang pribadi Rp 1 juta. Dengan sekitar 5 cat warna merah, kuning, hijau, putih dan hitam.

"Ini akan dihapus semua. Seperti pakai semen. Karepe ilang, yo ilang (perintahnya suruh menghilangkan, ya dihilangkan)," pungkas Santo.

(bgs/bgs)