DetikNews
Kamis 21 Juni 2018, 12:20 WIB

Meriahnya Festival Balon Udara Tambat di Pekalongan

Robby Bernardi - detikNews
Meriahnya Festival Balon Udara Tambat di Pekalongan Suasana festival balon udara yang ditambatkan di Pekalongan. Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan - Puncak kemeriahan lebaran yang berupa tradisi syawalan di Kota Pekalongan, tidak bisa terlepas dnegan tradisi balon udara. Biasanya di hari ketujuh lebaran, warga di Kota Pekalongan mengudarakan balon udara tanpa awak yang berukuran raksasa.

Tidak hanya balon yang mengudara, tapi disertai petasan yang akan meledak saat di udara. Hal ini membahayakan penerbangan di wilayah Jawa Tengah.

"Mulai hari ini sampai besok, kita gelar festival balon udara (tambat). Kegiatan ini untuk mengurangi tradisi lepas balon yang membahayakan penerbangan," kata Yohanes Sirait, Manager Humas Airnav Indonesia pada detikcom Kamis (21/06) di Lapangan Kuripan Kota Pekalongan.

Dijelaskan Yohanes Sirait, diharapkan dengan adanya festival balon yang berlangsung dua hari ini, dapat mengubah dari tradisi lepas balon menjadi balon tambat (tali).

"Dengan festival ini, tradisi warga masih bisa dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada dan tidak membahayakan pernerbangan," jelasnya.

Ditambahkan Yohanes, dalam Peraturan Menteri Perhubugan No 40 tahun 2018, dijelaskan balon yang standar adalah dengan ukuran lebar 4 meter, tinggi 7 meter dan dilepas dengan tali sepanjang 15 meter.

Festival balon udara tambat di Pekalongan.Festival balon udara tambat di Pekalongan. Foto: Robby Bernardi/detikcom

"Alhamdulillah kita bersyukur. Masyarakat sangat anatusias sampai hari ini dan besok peserta bertambah. Untuk awalan cukup bagus. Harapan kita sesuai dengan peraturan menteri, balon udara diijinkan tapi diikat ditambatkan," katanya.

Festival balon udara tambat di Pekalongan.Festival balon udara tambat di Pekalongan. Foto: Robby Bernardi/detikcom

Sementara itu, kendati baru kali pertama digelar di Kota Pekalongan, peserta festival tampak antusias. Salah seorang peserta festival, Saprodin (69) warga Sapuro, mengatakan bahwa festival dengan balon-balon udara yang ditambatkan justru tampak indah karena dikumpulkan di lokasi yang sama.

"Jadi ramai, warga bisa menonton kreasi kita. Kita coba ubah tradisi ini (balon udara menjadi balon tambat. Tradisi berjalan dan aman juga untuk saudara-saudara kita yang menumpang pesawat," katanya.


Tonton video Warna-warni Balon Udara Hiasi Bumi Reog

[Gambas:Video 20detik]


(skm/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed