Tradisi Lepas Balon Udara Akan Diganti Jadi Balon Tambat

Robby Bernardi - detikNews
Selasa, 05 Jun 2018 11:19 WIB
Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan - Setiap hari raya lebaran, masyarakat di wilayah Pekalongan, Wonosobo dan sekitar di Provinsi Jawa Tengah selalu dimeriahkan dengan melepas balon udara.
Berbagai ukuran balon udara dilepaskan ke udara setelah hari raya maupun saat tradisi lebaran ketupat.

Tradisi ini sudah ada sejak lama dilakukan masyarakat secara turun-temurun. Warga biasa melepaskan balon udara saat lebaran maupun tradisi syawalan (7 hari setelah lebaran). Biasanya, tidak hanya balon udara, namun juga disertai petasan yang akan meledak saat diangkasa.

Kegiatan ini selama beberapa tahun terakhir sering mengganggu jalur penerbangan di Jawa Tengah. Hal ini sangat membahayakan keselamatan penerbangan.
balon udarabalon udara Foto: Robby Bernardi/detikcom

"Pada hari ini, kami Ainav Indonesia melaksanakan uji coba penerbangan balon sesuai dengan standar PM (Peraturan Menteri Perhubungan No 40 2018), tentang penggunaan balon udara pada kegiatan budaya masyarakat," kata Kristianto Petugas Ainav Indonesia saat melakukan sosialisasi balon udara tambat pada komuntas balon Pekalongan dan Wonosobo, di Lapangan Mataram Kota Pekalongan, Selasa (5/6/2018).

Menurut Kristiyanto, dalam peraturan menteri tersebut, dijelaskan balon yang standar adalah dengan ukuran lebar 4 meter, tinggi 7 meter dan dilepas dengan tali sepanjang 15 meter.

"Ini merupakan kegiatan budaya balon udara tradisional yang pertama yang ditambatkan di Indonesia. Harapan kami bisa melakukan peningkatan pelayanan penerbangan di jalur ini," jelasnya.

Ditambahkan Dadun, selaku Kepala Otoritas Bandara Wilayah III, adanya balon udara samai ke jalur penerbangan tersebut sangat membahayakan penerbangan pesawat. Pihaknya sendiri kerap mendapatkan laporan dari para pilot mengenai balon yang masuk ke jalur penerbangan.

"Pernah ada laporan di atas ketinggian, ada balon yang terbang. Dan itu sudah sampai ke ketiggian pesawat komersial. Niat kita untuk mengapresiasi kegembiraan tapi disisi lain membahayakan penerbangan," kata Dadun.

Diharapkan dengan adanya rencana festival balon udara tambat ini akan mewadahi tradisi balon udara yang sekaligus tidak mengganggu jalur penerbangan komersial.

"Kita apresiasi. Tradisi warga tidak hilang dan peerbangan tidak terganggu," katanya.
Tradisi Lepas Balon Udara Akan Diganti Jadi Balon TambatFoto: Robby Bernardi/detikcom

Sementara itu, Walikota Pekalongan, Shaelani mengakui warganya mempunyai tradisi melepaskan balon saat lebaran maupun sepekan setelah lebaran atau saat tradisi syawalan.

"Untuk itu, kita coba balon udara yang ditambatkan ini. Dengan demikian tentu saja kita masih bisa mempertahankan tradisi lebaran sekaligus untuk keselamatan (penerbanga). Kita harus sesuai dengan peratuan pemerintah," jelasnya.

Syaiful Ridho (30) warga Kuripan Kota Pekalongan, kepada detikcom tradisi balon udara saat lebaran akan susah dihilangkan.

"Intinya dari warga Pekalongan ya, mau menghilangkan tradisi itu kan susah mas. Warga masyarakat sendiri mungkin juga belum pada tahu," katanya.

Namun demikian setidaknya dengan adanya festival balon udara tambat, akan sedikit demi sedikit mengubah tradisi dari balon lepas menjadi balon tambat.

"Kalau di Pekalongan tradisi balon paling lebaran. Paling tidak setiap masjid-masjid kan pasti menerbangkan," katanya.

Festival balon udara tambat di Pekalongan sendiri akan digelar pada tanggal 22-23 Juni mendatang. (bgs/bgs)