Melihat Masjid dan Bale Peninggalan Sunan Kalijaga di Semarang

Eko Susanto - detikNews
Senin, 04 Jun 2018 08:57 WIB
Bagian samping Masjid Baiturohim. Foto: Eko Susanto/detikcom
Semarang - Masjid Baiturohim, Desa Jatirejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, diyakini warga setempat sebagai peninggalan Sunan Kalijaga. Selain itu, ada sejumlah barang peninggalan Sunan Kalijaga yang hingga sekarang masih terjaga.

Bagian depan masjid ini tampak seperti masjid modern pada umumnya. Kesan kuno baru bisa terlihat dari sisi samping kiri, terutama rangka bangunan bagian atas.

Dulunya dinding masjid berupa kayu, sedangkan atapnya sirap. Kemudian di bagian depan, ada dua menara yang hingga sekarang masih ada. Namun kemudian masjid ini direnovasi.

Bagian depan Masjid Baiturohim. Bagian depan Masjid Baiturohim. Foto: Eko Susanto/detikcom

Untuk saat ini, dinding masjid berupa tembok, sedangkan atapnya memakai genteng. Namun untuk rangka masjid berupa kayu maupun blandar masih asli dari dulunya.

Ketua Takmir Masjid Baiturohim, Chozin Zamasari (73), mengatakan, masjid ini berdasarkan cerita para pendahulunya merupakan peninggalan Sunan Kalijaga.

"Berdasarkan cerita, dulu saat membangun Masjid Agung Demak, kurang satu soko (tiang), kemudian Sunan Kalijaga mengambil tatal dari sini menjadi tiang," kata Chozin saat ditemui di serambi Masjid Baiturohim, Minggu (3/6/2018).

Bagian dalam Masjid Baiturohim.Bagian dalam Masjid Baiturohim. Foto: Eko Susanto/detikcom

Tak jauh dari masjid tersebut dan masih berada di Dusun Kauman, Desa Jatirejo ini terdapat bangunan yang terkenal dengan sebutan Bale Panjang. Bangunan tersebut diyakini juga peninggalan Sunan Kalijaga dan hingga sekarang masjid dipertahankan.

"Menurut cerita, sebelum membangun masjid ini, Sunan Kalijaga bersama pengikutnya berembuk di Bale Panjang. Untuk masjid ini berdasarkan ceritanya lebih dulu jadinya dari Masjid Demak," tuturnya.

Tong besar di belakang masjid. Tong besar di belakang masjid. Foto: Eko Susanto/detikcom

Adapun peninggalan lain di masjid ini berupa tongkat maupun tong besar yang dulunya untuk tempat wudhu. Namun sekarang tong besar tersebut diletakan di belakang masjid serta peninggalan lainnya jam bencet di bagian samping.

Melihat Masjid dan Bale Peninggalan Sunan Kalijaga di SemarangTongkat yang pernah hilang. Foto: Eko Susanto/detikcom

"Untuk tongkat ini terbuat dari galeh (bagian inti) kayu jati. Dulunya tongkat ini pernah hilang, tapi kembali lagi," kata dia.

Melihat Masjid dan Bale Peninggalan Sunan Kalijaga di SemarangJam bencet. Foto: Eko Susanto/detikcom

Ketua RT 02/RW 01 Dusun Kauman, Desa Jatirejo, Mufid mengatakan, dulu bersama tujuh orang tokoh masyarakat pernah menuju Kadilangu Demak untuk mencari tahu sejarah. Sejarah yang dicari tentang keberadaan peninggalan Sunan Kalijaga.

Bangunan Bale Panjang diyakini peninggalan Sunan Kalijaga.Bangunan Bale Panjang diyakini peninggalan Sunan Kalijaga. Foto: Eko Susanto/detikcom

"Cerita secara turun-temurun, bangunan masjid dan Bale Panjang diyakini peninggalan Sunan Kalijaga. Kemudian sejak 4 tahun lalu, tiap 1 Muharam diadakan pengajian akbar dan pawai taaruf di Bale Panjang. Ini diadakan biar keberadaan Bale Panjang tidak disalahgunakan dan nguri-uri bangunan tersebut peninggalan Sunan Kalijaga," katanya. (sip/sip)