DetikNews
Jumat 25 Mei 2018, 18:52 WIB

Merapi Waspada, Siswi di Magelang Pilih Tinggal di Asrama

Pertiwi - detikNews
Merapi Waspada, Siswi di Magelang Pilih Tinggal di Asrama Foto: Pertiwi/detikcom
Magelang - Status Gunung Merapi naik dari Normal menjadi Waspada. Ada banyak warga yang tinggal di kawasan lereng Merapi yang ikut terdampak akibat erupsi selama beberapa hari terakhir ini. Hujan abu dan aktivitas Merapi akhir-akhir ini membuat warga was-was.

Salah satunya adalah siswa-siswi yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III di Kabupaten Magelang. Mereka ikut merasakan dampaknya karena sebagian besar keluarga tingga di lereng barat Merapi. Saat ini mreka tengah menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah (UAS).

Seperti di SMP Muhammadiyah II Sawangan di Kabupaten Magelang ini. Sekolah ini menerapkan kebijakan khusus untuk siswa yang tinggal di KRB III Gunung Merapi. Ada puluhan siswa yang sedang mengikuti ujian di sekolah. Agar belajar mereka tidak terganggu, sekolah meminta siswa untuk tinggal di asrama.

"Kebetulan siswa kami yang tinggal di KRB III ada 45 anak. Kami minta mereka menginap sementara di sekolah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi sekarang mereka sedang melaksanakan ujian
penilaian akhir tahun (PAT)," jelas Humas SMP Muhammadiyah II Sawangan, Ahmad Taufik kepada detikcom, Jumat (25/5/2018).

Dia menyebutkan, para siswa tersebut sebagian besar berasal dari daerah Boyolali seperti Desa Tlogolele, Stabelan, serta Sengi (Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang). Saat ini, ada sebanyak 29 anak yang memilih tinggal di asrama sekolah agar bisa berkonsentrasi dalam belajar.

"Selama menginap di sekolah, semua kebutuhan ditanggung oleh sekolah. Mulai dari pendampingan belajar hingga kebutuhan logistik," katanya.

Salah satu siswa, Dila Adriani (13), warga Tlogolele Boyolali mengaku memilih tinggal sementara di asrama sekolah lantaran takut.

"Setiap hari saya dengar suara gemuruh dari Gunung Merapi, jadi takut. Belajar juga hanya bisa sebentar saja, paling 15 menit, karena takuujar siswa kelas VIII itu.

Tidak hanya ketakutan saat malam hari ketika belajar, Dila juga harus berangkat sekolah dengan perasaan was-was. Dia diantar oleh ayahnya dengan mengendarai sepeda motor melintasi lereng Merapi menuju sekolahnya yang berjarak 8-9 kilometer.

"Saya senang, sekolah memperbolehkan kami menginap di asrama. Keluarga juga memperbolehkan," tuturnya.

Senada dengannya, Faisal Tri Utomo (14), warga Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang itu juga mengaku takut dengan aktivitas yang ditunjukkan Gunung Merapi.

"Saya takut karena ingat yang erupsi tahun 2010 lalu. Karena sekolah memperbolehkan, saya ikut menginap di asrama saja," katanya.


(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed