Diterjang Abrasi, 8 Rumah di Rembang Rusak Parah

Diterjang Abrasi, 8 Rumah di Rembang Rusak Parah

Arif Syaefudin - detikNews
Kamis, 24 Mei 2018 14:35 WIB
Diterjang Abrasi, 8 Rumah di Rembang Rusak Parah
Bangunan rumah yang rusak diterjang abrasi di Rembang. Foto: Arif Syaefudin/detikcom
Rembang - Sebanyak 8 rumah di Desa Karangmangu Rt 4 Rw 2 Kecamatan Sarang, Rembang, rusak parah akibat diterjang abrasi. Delapan rumah tersebut tak lagi bisa ditempati.

Camat Sarang, Muttaqin menyebutkan, ombak besar menerjang pesisir Kecamatan Sarang, Rabu (23/5) sejak siang hingga malam. Akibatnya, penghuni di 8 rumah tersebut saat ini terpaksa harus diungsikan. Selain itu tercatat 18 rumah lainnya yang mengalami kerusakan akibat abrasi.

"Sekarang kita cek di lapangan bagaimana kondisinya. Ternyata memang dari 8 rumah itu rusak berat semua dan sudah tidak layak dihuni. Maka dari itu kita ungsikan, bagi yang punya sanak famili agar menumpang terlebih dahulu. Kalau yang tidak punya kami anjurkan ke tetangga dahulu," terang Mutaqin saat di temui di lapangan, Kamis (24/5/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guna penanggulangan sementara, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang untuk memasang pemecah gelombang, berupa karung pasir. Harapannya, agar angin timur yang sedang terjadi ini tidak mengakibatkan perluasan dampak kerusakan.

"Ini sifatnya sementara terlebih dahulu agar tidak makin meluas dampaknya. Sedangkan kami sebenarnya sudah langsung laporan kepada pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bahkan sudah ke Provinsi juga guna mengusulkan talud pemecah gelombang di sepanjang garis pantai ini," terangnya.

Salah seorang warga, Slamet menyebutkan, daerah tersebut memang langganan terkena abrasi. Namun tahun ini menurutnya ketinggian ombak yang paling besar sejak 4 tahun terakhir.

"Terakhir yang sampai merusak banyak rumah ya empat tahun lalu. Ini baru yang lebih besar lagi, meskipun tahun-tahun kemarin juga gede, tapi yang tahun ini paling besar," jelasnya.

Kini pihaknya terpaksa harus menumpang di rumah kerabatnya yang jauh dari pantai. Meski demikian, ia mengakui masih enggan untuk berpindah rumah. Ia pun memilih untuk menunggu sampai ombak reda, baru kemudian memperbaiki rumahnya lagi.

"Ya ini perabot sudah saya ungsikan, rumah ini sudah kosong, pondasinya sudah ambrol. Kalau pindah tempat, biar di sini dulu lah sampai nanti kan ombaknya surut juga," aku Slamet. (sip/sip)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini