DetikNews
Rabu 23 Mei 2018, 21:59 WIB

Ini Penyebab Seringnya Terjadi Erupsi Freatik di Merapi

Usman Hadi - detikNews
Ini Penyebab Seringnya Terjadi Erupsi Freatik di Merapi Foto: Usman Hadi/detikcom
FOKUS BERITA: Gunung Merapi Meletus
Yogyakarta - Gunung Merapi sering mengalami letusan freatik belakangan ini. Dari tanggal 11 Mei sampai 23 Mei saja tercatat sudah ada tujuh kali erupsi freatik, untuk hari ini tercatat terjadi dua kali erupsi freatik di Merapi.

Kepala Seksi Merapi BPPTKG, Agus Budi Santoso menjelaskan, aktivitas Merapi akhir-akhir ini sebenarnya sama seperti erupsi freatik pascaletusan tahun 1872 dan 1930. Kala itu pascaletusan magmatik terjadi beberapa kali letusan freatik.

"Bahwa yang mirip dengan perilaku ini (erupsi freatik di Merapi) adalah berlaku pascaletusan 1872 dan pascaletusan 1930," kata Agus kepada wartawan di Kantor BPPTKG Yogyakarta, Rabu (23/5/2018) malam.

Agus menerangkan, morfologi yang dihasilkan pascaletusan 1872-1930 dan letusan 2010 membentuk kawah yang dalam. Akibatnya sumbat lava yang dihasilkan tidak setebal pascaletusan 2006.

"Jadi pascaletusan 1872-1930 dan 2010 itu sama membentuk kawah yang dalam, sehingga sumbat dari lavanya itu tidak setebal (pascaletusan) 2006," terangnya.

"Dengan sumbat lava yang lemah ini kemudian memungkinkan untuk terjadinya pelepasan gas secara mudah, yang itu (menyebabkan) terjadi sebagai letusan freatik," lanjutnya.

Menurutnya, pascaletusan magmatik tahun 2006 Gunung Merapi memiliki kubah kawah yang runcing. Sementara pascaletusan magmatik 2010 bentuk kubah kawah berubah tidak berbentuk runcing.

"Itu merupakan konsekuensi dari morfologi tersebut. Jadi ini sebenarnya pelepasan gasnya saja, karena dia sumbatnya (sumbat lava) lemah dia lepas sebagai letusan freatik," katanya.

Agus menambahkan sulit memastikan apakah ada pergerakan magma menuju permukaan akibat letusan freatik di Merapi. Sebab prekursor atau gejala awal Merapi sebelum terjadi erupsi freatik tergolong kecil.

"Jadi sulit untuk memastikan (magma sudah menuju permukaan)," katanya.

"Tapi kita bisa bilang berdasarkan referensi 2006-2010. Kecil kemungkinan (pergerakan magma) kalau sudah sampai permukaan, karena masih sangat lemah sekali prekursornya (erupsi freatik)," jelasnya.

Agus menerangkan, berdasarkan pengalaman tahun 2010 lalu sebelum terjadi erupsi magmatik terjadi gempa vulkanotektonik puluhan kali di Merapi. Setelahnya baru terjadi pergerakan magma ke permukaan.

"Kalau (letusan) hanya terjadi sekali kemudian besok juga seperti itu, besoknya tidak (tak terjadi letusan) itu tidak menandakan kalau magma menuju permukaan," tegasnya.

Menurutnya saat terjadi letusan freatik di Merapi beberapa hari ini juga disertai gempa vulkanik dangkal. Sementara gempa vulkanik dangkal sangat kecil menjadi penyebab pergerakan magma ke permukaan.

"Sehingga dengan adanya gempa vulkanik dangkal ini bukan berarti kalau magma sudah sampai permukaan. Bisa jadi ini karena ekses dari tekanan gas saja," pungkas dia.
(bgs/bgs)
FOKUS BERITA: Gunung Merapi Meletus
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed