DetikNews
Selasa 22 Mei 2018, 07:50 WIB

Berkunjung ke Masjid Saka Tunggal Banyumas yang Penuh Filosofi

Arbi Anugrah - detikNews
Berkunjung ke Masjid Saka Tunggal Banyumas yang Penuh Filosofi Bagian dalam Masjid Saka Tunggal, Banyumas. Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Banyumas - Berada di lembah yang diapit perbukitan di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas masih berdiri kokoh Masjid Baitussalam atau lebih dikenal Masjid Saka Tunggal. Masjid ini dipercaya masyarakat sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu.

Jamaah masjid ini hingga kini mempunyai penentuan tanggal menggunakan tanggal Jawa, Alif Rebo Wage atau Islam Aboge. Berada sekitar 30 kilometer arah barat Kota Purwokerto, suasana alam yang tenang, damai dan sejuk di sekitar Masjid Saka Tunggal menambah ketenangan tersendiri ketika mulai memasuki halamannya.

Dengan dilingkupi pepohonan lereng bukit serta sambutan sejumlah monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang hidup secara liar, namun tetap bisa berdampingan dengan masyarakat sekitar, menambah betah untuk tidak cepat-cepat beranjak dari lokasi tersebut.

Masjid Saka Tunggal, Banyumas. Masjid Saka Tunggal, Banyumas. Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Ada cerita tersendiri tentang monyet-monyet yang ada di komplek Cagar Budaya Masjid Saka Tunggal. Konon gerombolan monyet itu merupakan santri-santri murid Kyai Saka Tunggal yang dikutuk menjadi monyet karena mau salat. Bahkan disebutkan, para santri itu justru membuat kegaduhan saat orang-orang tengah melaksanakan salat hingga berakhir menjadi monyet.

Di balik semua legenda dalam masjid berusia ratusan tahun itu, keheningan dan kedamaian terasa semakin lengkap saat berada di dalamnya. Tembok yang terbuat dari anyaman bambu bermotif wajik melapisi bagian interior masjid berukuran 15 x 17 meter itu. Semilir angin lembut menelusup disela-sela jendela sembari disusupi cahaya matahari yang berpendar menerangi ruangan.

Sebuah saka atau tiang penyangga berukuran 40 x 40 centimeter dengan tinggi sekitar 5 meter, membuat masjid tegak berdiri menyangga langit-langit atau wuwungan masjid. Tiangnya yang hijau dipenuhi ukiran bunga dan tanaman serta dilindungi kaca.

"Filosofi dari Saka Tunggal adalah bersatunya atau manunggalnya manusia dengan Sang Pencipta. Manusia menghormati Sang Pencipta dan Sang Pencipta menciptakan manusia untuk berbuat hal-hal yang baik," kata Ketua Juru Kunci Masjid Saka Tunggal, Subagyo, Selasa (22/5/2018).

Pada bagian ujung atas saka tunggal tersebut, juga terdapat empat sayap kayu yang disebut 4 kiblat, 5 pancer yaitu menunjuk 4 arah mata angin dan 1 pusat atau arah menunjuk ke atas.

Masjid Saka Tunggal, Banyumas. Masjid Saka Tunggal, Banyumas. Foto: Arbi Anugrah/detikcom

"Maknanya kita itu hidup harus punya kiblat atau pedoman, yaitu Allah," jalasnya.

Subagyo menjelaskan 4 arah itu juga melambangkan manusia yang terdiri dari unsur air, udara atau angin, api, dan tanah berserta dengan nafsu-nafsu yang menyertainya antara lain aluamah, mutmainah, supiah, dan amarah.

"Bumi itu dibuangi apa saja tetap diam. Kita belajar nrimo (menerima) atau mengendalikan sifat itu. Kendalikan juga sifat api (amarah). Angin yang menunjukkan kehalusan kita juga harus dikendalikan dan sifat air yang selalu mengalir ke tempat rendah artinya kita juga harus merendahkan hati," ujarnya.

Hingga kini, tradisi yang masih kental dan masih terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar Masjid Saka Tunggal adalah tradisi penjarohan atau jaroh yaitu ziarah dengan tujuan menghormati leluhur, dan biasa digelar setiap tanggal 26 Rajab. Dalam kegiatan tersebut biasanya warga bergotong-royong mengganti pagar bambu yang mengelilingi masjid dan juga makam sekitar masjid.

"Yang dimaksud jaroh itu adalah agar dijaga antara njaba lan njero atau menjaga luar dan dalam. Artinya kita menjaga tali silahturahmi dengan sesama dan juga menjaga kepercayaan kepada Allah," tuturnya.

Dia menjelaskan, masjid tersebut didirikan pada 1522 oleh Kiai Toleh atau Mbah Mustolih yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di tempat tersebut. Meskipun demikian tidak ada bukti secara tertulis melalui dokumen terkait berdirinya Masjid Saka Tunggal. Hanya cerita dari turun temurun dan peninggalan fisik masjid beserta isinya hingga kini.

Namun demikian, dari beberapa penelitian yang dilakukan beberapa ahli terkait pola pemukiman komunitas Islam Aboge serta struktur bangunan Masjid Saka Tunggal. Masjid tersebut merupakan masjid tertua di Indonesia.

Salah satunya yakni Dosen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma (Unwiku) Purwokerto, Yohana Nursruwening dan Wita Widyandini yang pernah meneliti pola permukiman komunitas Islam Aboge di Desa Cikakak.

Hal tersebut dapat diketahui dari angka 1288 yang terdapat di tiang atau saka tunggal masjid. 1288 merupakan tahun Hijriyah yang jika dikonversi ke tahun Masehi menunjuk pada tahun 1522.

"Angka 1288 itu diduga merupakan tahun Hijriyah dan jika dikonversi ke tahun Masehi maka menunjuk tahun 1522," ujarnya.
(arb/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed