Masjid Ini Masih Gunakan Jam Matahari Untuk Patokan Waktu Salat

Eko Susanto - detikNews
Sabtu, 19 Mei 2018 09:46 WIB
Foto: Eko Susanto/detikcom
Semarang - Masjid Al Huda yang berada di Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mina, Ngawinan, Jetis, Bandungan, Kabupaten Semarang ini masih memakai jam matahari atau istiwak. Istiwak atau jam bancet ini masih digunakan untuk patokan waktu salat.

Jam istiwak atau bancet berada di masjid ini sejak sekitar tahun 1950-an. Adapun hingga sekarang ini telah tiga kali mengalami pemindahan pemasangan lokasi. Dulu pernah ditempatkan di atas masjid, kemudian dipindah di samping masjid dan semenjak 1994 hingga sekarang berada di depan masjid.
Mencocokkan waktu setiap 3 hari sekaliMencocokkan waktu setiap 3 hari sekali Foto: Eko Susanto/detikcom

Jam mahatari tersebut diletakkan dengan penyangga dari beton cor. Kemudian, setiap 3 hari sekali dilakukan pencocokkan. Jam tersebut hingga sekarang dijadikan patokan masuk waktu salat.

Salah satu pengasuh Ponpes Al Mina, KH Zaenal Mutaqin mengatakan, jam istiwak ada sejak sekitar tahun 1950-an. Dulunya semenjak Mbah Badrun hingga sekarang masih dijadikan patokan masuknya waktu salat.

"Setiap 3 hari sekali, kami mencocokkan jam tersebut. Kemudian jam tangan kami setel sama istiwak," ujarnya saat ditemui di serambi Masjid Al Huda, Ngawinan, Jetis, Bandungan, Kabupaten Semarang.

Hingga kini musala maupun masjid yang berada di sekitar Bandungan, baru melakukan azan setelah Masjid Al Huda azan. Bahkan saat puasa Ramadan pun, jam istiwak sebagai penanda memasuki waktu buka puasa yang dilanjutkan azan. Setelah itu, masjid maupun musala di sekitarnya baru mengumandangkan azan.
Jadwal waktu salatJadwal waktu salat Foto: Eko Susanto/detikcom

"Hari ini berdasarkan jam istiwak, waktu buka puasa jam 17.57," ujarnya seraya menyebutkan ada selisih waktu sekitar 25 menit dengan jam Waktu Indonesia Barat (WIB).

Selain jam istiwak, di masjid tersebut juga terdapat jadwal waktu salat menggunakan waktu istiwak. Jadwal tersebut dulunya berasal dari Kutawinangun, Kebumen.

"Itu sudah lama sekali keberadaan jadwal salat ini. Jadwal salat itu berlaku selamanya," ujar kiai berusia 72 tahun, itu.

Adapun peninggalan lainnya adalah beduk terbuat dari pohon nangka. Beduk ini juga masih digunakan. Dulunya beduk tanpa ada ukirannya, kemudian direnovasi dengan diukir.

"Kami tidak mengetahui sejak kapan beduk ini berada di masjid. Kami hanya melakukan renovasi penggantian kulit beduk dan mengukirnya saja," kata Khadzaro, Takmir Masjid Al Huda. (bgs/bgs)