Membawa hasil bumi lengkap dengan pakaian adat jawa, warga dari berbagai desa menggelar ritual selamatan. Juru kunci makam Girilangan, Ahmad Sujari, menceritakan bahwa tradisi Nyadran Gedhe dimaksudkan untuk mendoakan arwah leluhur. Biasanya dilakukan hari Senin atau Kamis terakhir di Bulan Ruwah atau Sya'ban.
"Ruwah itu artinya ruh dan arwah. Makanya kami sebelum memasuki Bulan Ramadan mendoakan arwah leluhur. Setelah itu baru menyantap hasil bumi sebagai tanda syukur terhadap sang pencipta," terangnya.
Berdoa bersama dilanjutkan makan hidangan yang telah disiapkan dari rumah (Foto: Uje Hartono/detikcom) |
Menurutnya, tradisi nyadran yang berkembang saat ini adalah bentuk pelestarian kegiatan dari jaman kademangan. Termasuk masyarakat yang membawa hasil buminya yang kemudian dibawa ke petilasan untuk dinikmati bersama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih rinci, ia menyebutkan untuk persiapan lain adalah menyediakan nasi golong menir, ambeng menir, ambeng intip, ambeng beras ketan dwiwarna, pecel ayam cemani, trancam terong aor, sayur bening daun kelor, tempe goreng adem, golong pitu, sate kambing, peyek pethek.
Tua muda mengikuti acara sadranan tersebut. (Foto: Uje Hartono/detikcom) |
Tak ketinggakan adalah pendul yang terbuat daging dicampur ampas kelapa muda dan kelapa muda diberi lubang diisi gula kelapa.
Salah satu warga Gumelem Wetan, Sumarni (50) menuturkan dirinya membawa tumpeng dengan beraneka lauk. Tujuannya, untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal dunia.
"Makanan ini dimakan bersama di petilasan Girilangan. Kemudian sebagian dibawa pulang sebagai berkah sebelum menjalakan ibadah puasa di bulan Ramadan," tuturnya. (mbr/mbr)












































Berdoa bersama dilanjutkan makan hidangan yang telah disiapkan dari rumah (Foto: Uje Hartono/detikcom)
Tua muda mengikuti acara sadranan tersebut. (Foto: Uje Hartono/detikcom)