Kirab digelar Sabtu (5/5/2018) mulai sekitar pukul 14.15 WIB hingga sore dari Keraton Kasunanan Surakarta. Raja yang keluar dari keraton kemudian menaiki kereta kencana yang dibuat pada tahun 1836 itu.
"Nama keretanya Kiai Garuda Kencana. Saat itu dibuat masa PB VII. Namun sebelum kereta selesai dibuat, beliau meninggal," kata Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, di sela-sela kirab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Saat kereta selesai dibuat, PB VIII lalu membayar ongkos pembuatan kereta itu. Namun PB VIII juga meninggal sebelum menggunakan kereta tersebut.
"Akhirnya raja pertama yang menggunakan kereta ini adalah PB IX," kata Gusti Dipo itu.
Adapun kirab tersebut digelar tiga pekan setelah tingalandalem jumenengan ke-14 PB XIII pada 12 April lalu. Menurut Dipo, pelaksanaan kirab memang tidak memiliki patokan tertentu.
"Tidak ada ketentuan kapan diselenggarakan, bisa saat pertama kali kenaikan tahta, bisa terkait penghitungan tahun Jawa, atau karena sinuhun (raja) menghendaki. Kali ini sinuhun menghendaki ada kirab," ujarnya.
![]() |
Prosesi kirab ini, lanjut Dipo, sama seperti kirab malam 1 Sura. Sekitar 4 ribu orang dari kerabat, tamu undangan, sentanadalem, abdidalem dan tim pengamanan terlibat dalam kirab itu.
"Ada kurang lebih 14 kereta untuk raja, keluarga dan tamu undangan," katanya.
Rute kirab pun sama seperti kirab malam 1 Sura. Dari keraton, rombongan berjalan melalui Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Sunaryo, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi dan kembali ke keraton. (mbr/mbr)