detikNews
Sabtu 05 Mei 2018, 14:28 WIB

Pentas Monolog Bahasa Jawa

'Baitarengka', Kapal Retak Jawa di Tengah Arus Perubahan

Muchus Budi R. - detikNews
Baitarengka, Kapal Retak Jawa di Tengah Arus Perubahan pementasan monolog jawa ki trisno pelok (Foto: sanggar seni kemasan)
Solo - Ada yang menarik dari pementasan monolog berbahasa Jawa yang dipentaskan di Sanggar Kepatihan Kulon, Jumat (4/5/2018) malam. Pentasnya menyegarkan, respon spontannya mengejutkan, sedangkan tanggapannya jauh lebih menghenyakkan

Aktor kawakan Solo, Trisno Santoso Pelok, tampil dalam monolog berbahasa Jawa berjudul 'Baitarengka'. Naskah ditulisnya sendiri. Sedangkan secara keseluruhan, pementasan digawangi oleh sutradara Tafsir Huda.

Panjang namun tak bertele-tele, justru segar dan mencerahkan. Dalam bahasa Jawa keseharian gaya Surakarta, Pelok membawa penonton menelanjangi diri sendiri tentang kehidupan, kemanusiaan, perubahan relasi sosial dan juga tentang pilihan bahasa yang dipakai sebagai pengantar pementasan itu sendiri.
Baitarengka, Kapal Retak Jawa di Tengah Arus PerubahanFoto: sanggar seni kemasan

Penontonnya beragam karena memang Sanggar Seni Kemasan adalah kantong kesenian yang berada di tengah-tengah perkampungan padat penduduk di Solo. Banyak seniman profesional datang, berbaur dengan mahasiswa dan warga. Bahkan juga berjubel anak-anak kampung yang biasa disuguhi tontonan di sanggar tertua yang masih aktif di Solo tersebut.

Baitarengka, arti harfiahnya adalah kapal retak. Pelok tampil sebagai Sagiman Kacrut, asisten rumah tangga dari Handayaningrat Sastrokamandanu, tokoh terpandang yang sangat berpengaruh. Kacrut telah 50 tahun menjadi abdi setia. Mereka hanya hidup bertiga di rumah mewah itu; Handayaningrat, Kacrut dan Tupon. Yang terakir adalah nama seekor anjing.
Baitarengka, Kapal Retak Jawa di Tengah Arus PerubahanFoto: sanggar seni kemasan

Persoalan terjadi ketika Handayaningrat yang terpandang dan kaya raya itu meninggal. Dia punya banyak permintaan dan wasiat sebagai pengantar prosesi pemakamannya. Semua hanya harus dijalani oleh Kacrut sendiri karena keenam anak Handayaningrat tak ada yang mau pulang menghadiri pemakaman ayahnya. Semua diserahkan kepada Kacrut.

Kacrut terus berusaha keras mewujudkan semua pesan dan wasiat. Dia bahkan sempat mengancam akan memakamkan jenazah juragannya itu lebih dari tiga hari semua wasiat itu belum bisa terlaksana. Yang lebih membuatnya terpukul adalah tiba-tiba Tupon, teman setianya, mati mendadak. Dia lebih merasa kehilangan si anjing Tupon daripada Handayaningrat.
Baitarengka, Kapal Retak Jawa di Tengah Arus PerubahanFoto: sanggar seni kemasan

Pementasan berlangsung segar, cair dan mengalir. Banyak canda dan sentilan nakal dilontarkan Pelok lewat cakapan-cakapannya. Namun demikian penuh gelak tawa dan respon spontan yang gerr itu bukan berarti semua penonton bisa memahami semua yang disampaikan Pelok di panggung. Padahal Pelok menggunakan bahasa Jawa harian.

"Saya bisa memahami isi pesan secara keseluruhan dari pementasan, bisa ikut tertawa lepas ketika adegan lucu, tapi sejujurnya banyak kata-kata yang saya tidak bisa memahami artinya. Meskipun saya tahu itu bahasa Jawa biasa, tapi saya sudah tidak memahaminya," ujar Anisa, salah satu penonton, dalam diskusi seusai pementasan.

Rupanya hal itu disadari oleh Pelok. Dia mengaku bahkan dalam penggunaan kata-kata dia sudah teramat banyak 'mengalah'. Dia banyak 'meminjam' beberapa bahasa Indonesia untuk cakapannya karena menyadari bahwa banyak kata di bahasa Jawa yang telah ditinggal oleh anak-anak muda ketika bercakap dalam bahasa Jawa pergaulan sehari-hari.
Baitarengka, Kapal Retak Jawa di Tengah Arus PerubahanFoto: sanggar seni kemasan

"Tapi memang sejak awal saya telah menegaskan pada diri saya sendiri bahwa saya akan tetap menggunakan bahasa Jawa di setiap pementasan saya dalam bentuk pentas apapun. Saya merasa punya tanggung jawab untuk terus mengingatkan publik tentang pentingnya penggunaan bahasa daerah," kata Pelok yang merupakan aktor Teater Gapit Solo.

Sedangkan Tafsir Huda mengatakan bahwa persoalan yang terjadi sekarang adalah karena sudah terjadinya arus besar perubahan. Bahasa Indonesia saat ini telah menjadi bahasa ibu, menggantikan bahasa daerah setempat. Konsekuensinya adalah bahasa daerah akan menjadi asing dan semakin asing bagi warga setempat dan gererasi berikutnya.
Baitarengka, Kapal Retak Jawa di Tengah Arus PerubahanFoto: sanggar seni kemasan

Teaterawan muda Solo, Budi Bodhot Riyanto dan Oedin UPW, mengapresiasi sikap Pelok. Keduanya berharap semakin banyak naskah-naskah teater maupun naskah monolog bahasa Jawa sehingga semakin banyak pementasan bahasa Jawa. Cara demikian dirasa akan mampu menjembatani keterasingan warga atas bahasa daerahnya sendiri.

"Saya akan berharap semakin banyak naskah berbahasa Jawa untuk bisa saya pentaskan keliling kampung-kampung di pedesaan Jawa. Ini penting agar semua akrab lagi dengan bahasa aslinya. Agar kapal kebudayaan daerah tidak retak semakin lebar dan parah," sambung Owot Sarwoto, 'gerilyawan' seni panggung dari Salatiga.
(mbr/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed