"(Debat) kurang tajam, masih normatif, kurang saling mengkritisi satu sama lain. Padahal debat yang baik adalah yang saling mengkritisi satu sama lain," ujar salah satu panelis dari Fisipol Universitas Gajah Mada, Ari Sujito, usai debat terbuka pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Magelang, di GOR Gemilang Magelang, Sabtu (28/4/2018) malam.
Ari menambahkan, status kedua calon bupati yang juga incumbent turut menjadi faktor kurang tajamnya debat malam ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia pun berharap, pada debat selanjutnya, kedua paslon bisa saling mengeluarkan kemampuan terbaik. Khususnya dalam mengangkat isu-isu strategis ke dalam materi debat mereka.
"Pertarungan yang terjadi jangan pertarungan normatif. Kritisi satu sama lain seupaya publik bisa menilai kualitas masing-masing dan mereka bisa menjadi bagian dari penilaian para paslon," kata Ari.
Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Magelang, Afiffudin mengatakan, debat terbuka antar paslon Bupati dan Wakil Bupati Magelang dimaksudkan supaya visi misi para calon diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Sehingga masyarakat bisa pastikan calon bupati dan wakil bupati yang layak memimpin Kabupaten Magelang," terangnya.
Selama pelaksanaan debat, KPU menerapkan sejumlah aturan yang wajib dipatuhi oleh para paslon maupun pendukungnya. Seperti tidak boleh mengganggu selama berlangsungnya debat, jumlah pendukung yang dibatasi hanya sebanyak 150 orang tiap paslon.
"Aturan-aturan ini adalah kesepakatan antara KPU dan para paslon. Nanti pada debat selanjutnya kita atur lagi kesepakatannya," kata Afif.
Rencananya, KPU masih akan menggelar debat lanjutan pada 26 Mei dan 22 Juni 2018 mendatang dengan tema yang berbeda. (bgs/bgs)











































