Lakon yang dimainkan malam itu adalah Sang Pambayun. Lakon ini menceritakan kisah perseteruan Ki Ageng Wanabaya yang tak mau menyerahkan Mangir sebagai bagian dari kerajaan Mataram.
Namun siasat asmara Pambayun yang menyamar jadi penari ledhek keliling berhasil membuat Wanabaya lemah dan akhirnya dapat dibunuh Panembahan Senapati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Server Error, UNBK di Rembang Molor |
Ditemui usai pentas, Ganjar mengaku lakon yang diperankannya tak begitu sulit dilakoninya. Ia mengakui kerap menjadi bintang ketoprak ataupun wayang wong, sehingga tak lagi canggung saat berperan di atas panggung ketoprak.
"Ya saya kan sudah sering main ketoprak, wayang wong, jadi ya biasa saja. Ya salah-salah sedikit wajar lah, namanya nggak latihan," kata Ganjar.
Ia pun mengaku sangat mendukung kesenian ketoprak sebagai kesenian yang patut dilestarikan. Bahkan, ia pun menyebut bintang ketoprak dapat dijadikan sebagai profesi dan sumber mata pencaharian.
"Bahkan di Pati pemain ketoprak bisa jadi profesi, mungkin tidak sebesar artis tapi bisa untuk hidup di desa," katanya.
"Dalam budaya yang sangat paternalistik, orang butuh contoh. Apa ujudnya, ikut. Nggak mung omong tok. Mudah-mudahan dengan pimpinannya ikut main akan mengajak yang lain ikut juga," tambahnya.
Sutradara ketoprak, Agus Krisbiantoro mengatakan, pertunjukan malam ini sekaligus meresmikan tobong milik Ki Sigid Ariyanto itu. Peresmian sengaja dilakukan pada malam Selasa Wage, yang kedepannya sebagai acuan pagelaran ketoprak berkelanjutan semacam itu.
"Tobong itu bisa diartikan gedung atau tempat untuk pelatihan dan pagelaran seni, bukan hanya ketoprak tapi juga tari dan kesenian lain. Jadi setiap Selasa Wage akan ada pertunjukan utamanya ketoprak di sini," katanya. (bgs/bgs)











































