DetikNews
Sabtu 21 April 2018, 11:36 WIB

HUT ke-4, Saya Perempuan Antikorupsi Gandeng Difabel Jadi Agen

Ristu Hanafi - detikNews
HUT ke-4, Saya Perempuan Antikorupsi Gandeng Difabel Jadi Agen HUT ke-4 SPAK di Monumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta. Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Yogyakarta - Tepat tanggal 21 April 2018, gerakan Saya Perempuan Antikorupsi (SPAK) menginjak usia empat tahun. Gerakan yang diinisiasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini terus berupaya memperkuat jaringan di daerah. Salah satunya dengan melibatkan perempuan penyandang difabel sebagai agen antikorupsi.

"Banyak elemen masyarakat yang sudah bergabung dalam SPAK seperti polisi, jaksa, dan ragam profesi lain. Saat ini gerakan SPAK juga melahirkan penggerak perubahan dari teman-teman perempuan penyandang disabilitas," kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, di acara peringatan ulang tahun ke-4 SPAK di Monumen Serangan Umum 1 Maret kawasan Titik Nol Kilometer Yogya, Sabtu (21/4/2018).

Menurutnya, agen SPAK penyandang disabilitas telah membuktikan diri bahwa mereka ingin menjadi warga negara yang peduli dan berkontribusi dalam upaya pemerintah memberantas korupsi.

"Pendampingan dari agen SPAK Polwan memperkuat keberanian mereka untuk terus bergerak dan berbagi nilai-nilai antikorupsi," jelasnya.

SPAK merupakan gerakan yang menyebarkan inspirasi, semangat, dan mendorong kualitas pemahaman tentang korupsi, perilaku koruptif, dan cara berperilaku antikorupsi. Perubahan diawali oleh para agen yang kemudian ditularkan kepada keluarga dan lingkungan sosialnya.

"KPK tidak pernah bisa sendirian dalam melakukan tugas ini, seluruh elemen masyarakat bisa bergabung bersama untuk mencegah dan memberantas korupsi," imbuhnya.

Hadir dalam acara ulang tahun ke-4 SPAK, Menteri Sosial Idrus Marham, pejabat Pemda DIY, Kapolda DIY, dan perwakilan agen SPAK.

"Gerakan SPAK ini harus berkesinambungan, posisi perempuan memang cukup strategis dan memiliki peranan penting mulai dari lingkungan keluarga dan sosial. Jadi tepat jika perempuan dilibatkan mencegah sejak dini perilaku korupsi," kata Idrus Marham.

Kementerian Sosial pun siap bersinergi dengan KPK untuk menjalankan program SPAK. Idrus berharap gerakan SPAK bisa merata di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

"KPK ada kritik nangkap orang, represif. Hari ini momentum ini sebagai instrumen bahwa KPK tidak seperti itu. KPK justru melakukan hal-hal yang mendasar membangun bangsa, melibatkan perempuan. Wajah Indonesia ke depan ditentukan oleh anak-anak kita, dan anak-anak dididik oleh ibu sebagai sutradara rumah tangga," imbuhnya.

Dalam acara ini, juga dilakukan peluncuran website SPAK www.spakindonesia.org dan peluncuran permainan SPAK untuk disabilitas yakni Majo dan Semai.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed