DetikNews
Kamis 19 April 2018, 21:23 WIB

Tak Jera Produksi Jamu Ilegal, BPOM Gerebek Lagi di Cilacap

Arbi Anugrah - detikNews
Tak Jera Produksi Jamu Ilegal, BPOM Gerebek Lagi di Cilacap Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Cilacap - Para pelaku pembuat jamu ilegal tak kunjung jera memproduksi jamu mengandung Bahan Kimia Obat (BKO). Meskipun tempat produksi mereka sudah pernah digerebek dan menjalani pembinaan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang.

Seperti yang dilakukan oleh BPOM Semarang yang kembali melakukan penggerebekan terhadap tempat produksi dan pengemasan jamu ilegal yang mengandung BKO di Grumbul Bayeman Kidul RT 5 RW 3, Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Cilacap.

Dari lokasi itu, BPOM berhasil mengamankan 12 jenis jamu dari berbagai merek seperti Pusaka Daya, Obat Kuat Metal Caps Kuda Liar, Langgeng, Obat Tradisional Lega Nafas Sinar Serambi, Langsing Singset, Batuk Pilek tanpa izin produksi dan ijin edar dengan jumlah 2.500 kotak, 6.050 sachet dan 240 renteng jamu ilegal tanpa izin produksi serta ijin edar. Selain itu pihaknya juga mengamankan 4 mesin untuk melakukan proses produksi.

"Saat di gerebek sedang melakukan produksi. Jadi ini pengembangan dari temuan kami di Tegal sebagai distribusi obat tradisional ditemukan obat-obat di jamu-jamu ini, maka kami kembangkan karena asalnya memang dari sini. Kami curiga ada BKO-nya," kata Kepala BBPOM Semarang, Endang Pudjiwati yang memimpin jalannya penggerebekan, Kamis (9/4/2018).

Menurut dia, saat digerebek pihaknya tidak menemukan bahan pembuatan jamu yang mengandung BKO. Pihaknya hanya menemukan serbuk yang telah dimasukkan dalam kemasan yang dilakukan oleh 12 karyawannya.

"Jadi asal usul bahannya masih kita telusuri. Karena modusnya sekarang kontrak rumah warga dijadikan sebagai tempat produksi, supaya sulit ditelusuri," ujarnya.
serbuk jamuserbuk jamu Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Dia menjelaskan jika pemilik tempat produksi ini berinisial MJ (40). Pelaku pembuat jamu ilegal ini sudah pernah ditangkap dan dilakukan pembinaan. Namun sepertinya pelaku tidak juga jera dan masih melakukan kegiatan serupa.

"Pelakunya dulu pernah melanggar juga. Tapi sudah pernah juga mengikuti pembinaan dan sepertinya juga tidak jera," katanya.

Dia mengakui jika memang sejak dulu Cilacap dikenal sebagai wilayah yang banyak obat tradisional atau jamu dengan ditambahkan obat, meskipun sekarang sebenarnya sudah jauh berkurang dibandingkan dulu.

"Sampai sekarang masih ada, selama masyarakat belum teredukasi dan masyarakat inginnya mendapatkan jamu yang langsung sembuh. Makanya harus diedukasi terus ke masyarakat, kalau jamu itu tidak ada yang bisa langsung menyembuhkan. Jamu itu untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh, tapi bukan untuk mengobati penyakit," ujarnya.

Dia mengatakan jika hal itu dikarenakan pasar penjualan jamu masih bagus diluar daerah seperti Jawa dan Kalimantan, ditambah banyaknya masyarakat yang belum teredukasi.

"Sasarannya biasanya menengah ke bawah, seperti buruh- buruh di daerah mana pun jamu itu laris seperti di Kalimantan itu laris," ucapnya.

Dia menjelaskan jika saat ini masyarakat sebetulnya sudah bisa melakukan pengecekan sendiri terhadap ijin edar dan produksi sebuah produk di aplikasi BPOM melalui Android. Dengan memasukkan nomor registrasi pada aplikasi tersebut, masyarakat akan dapat mengetahui apakah produk tersebut terdaftar atau tidak.
(arb/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed