DetikNews
Kamis 19 April 2018, 12:28 WIB

Tyas, Anak Satpam UGM, Pantang Menyerah Demi Raih Cita-cita

Usman Hadi - detikNews
Tyas, Anak Satpam UGM, Pantang Menyerah Demi Raih Cita-cita Foto: Usman Hadi/detikcom
Sleman - Retnaningtyas Susanti (33) warga Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Sleman, berhasil meraih doktor dari Universitas Gajah Mada (UGM). Ia adalah anak Teguh Tuparman, yang sehari-harinya bekerja menjadi anggota satpam di kampus UGM.

Dia hari ini ikut diwisuda bersama 1.369 wisudawan lulusan pascasarjana di Grha Sabha Pramana (GSP), Kamis (19/4/2018). Ia adalah salah satu dari 88 mahasiswa program S3 yang diwisuda. Kini ia bergelar doktor setelah menyelesaikan S3 program studi Kajian Pariwisata.

Pencapaian wanita yang akrab dipanggil Tyas ini tak disangka-sangka oleh kedua orangtuanya, yakni Teguh Tuparman (56) dan Retnanik (54). Meski bukan berasal dari keluarga mampu, jiwa pantang menyerah demi meraih pendidikan tinggi dilakukan oleh Tyas.

"Alhamdulillah, seneng banget. Tidak terbatas aku senangnya, sampai semalem aku gak bisa tidur," kata orang tua Tyas, Retnanik disela prosesi wisuda periode III tahun akademik 2017/2018 di GSP UGM, Kamis (19/4/2018).

Tyas juga mengaku bangga seusai mendapat gelar doktor. Dia berharap, pencapaiannya tersebut dapat membahagiakan orangtuanya. Dia sadar, kesuksesannya tak lepas dari perjuangan bapak-ibunya.

"Selama ini, mulai S1 bapak saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk (membiayai kuliah) saya," ungkap anak pertama dari empat bersaudara ini.

Tyas menjelaskan, perjuangannya memperoleh gelar doktor amat panjang. Di mulai dari usahanya mendapatkan gelar sarjana di Jurusan Antropologi Budaya FIB UGM tahun 2003-2007.

"Sejak masuk S1 Antropologi UGM saya sudah bercita-cita menjadi dosen. Jadi, sebisa mungkin saya harus mendapatkan pendidikan tertinggi untuk mencapai cita-cita saya tersebut," tuturnya.

Namun persoalan biaya sempat menjadi kendala. Setelah menamatkan S1, Tyas sempat mengutarakan keinginannya melanjutkan studi S2. Tetapi, kedua orangtuanya bimbang karena tak memiliki biaya.

"Tahun 2007-2009 saya membantu dosen saya di PSKK UGM, saya menjadi asisten peneliti. Kemudian setelah 2009 saya masuk S2 Pariwisata di Sekolah Pascasarjana UGM, lulus 2011," ungkapnya.

Sewaktu kuliah S2 ini Tyas sempat bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dari pekerjaannya, akhirnya dia bisa membiayai kuliahnya sampai tuntas.

"Tahun 2011-2013 saya mengajar di Universitas Andalas Padang. Saya mendapatkan beasiswa ini (beasiswa calon dosen Dikti) di tahun 2013," ungkapnya.

"Saya memperoleh beasiswa (S3) untuk tiga tahun. Saya menyelesaikan studi selama 4,5 tahun, 1,5 tahunnya saya cari (biaya) sendiri dan beberapa support dari dosen saya," lanjutnya.

Tyas berharap, pencapaiannya ini dapat menginspirasi yang lainnya. Dia juga berharap kelak tidak akan ada lagi anak putus sekolah karena persoalan keterbatasan biaya.

"Pemerintah dan banyak (lembaga) di sekitar kita peduli terhadap kekurangan. Terutama ketika itu ditujukan untuk (biaya) pendidikan," sebutnya.

"Akan banyak bantuan yang masuk ketika kita harus memenuhi kebutuhan biaya sekolah. Jadi jangan menyerah, pasti ada jalan," pungkas dia.
(bgs/bgk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed