Nenek Rosmi Hidup Sebatang Kara di Rumahnya yang Nyaris Roboh

Nenek Rosmi Hidup Sebatang Kara di Rumahnya yang Nyaris Roboh

Wikha Setiawan - detikNews
Rabu, 04 Apr 2018 09:17 WIB
Nenek Rosmi Hidup Sebatang Kara di Rumahnya yang Nyaris Roboh
Nenek Rosmi tinggal sendirian di rumahnya yang hampir roboh di Jepara. Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Jepara - Seorang nenek berusia 70 tahun hidup sebatang kara di rumahnya yang nyaris roboh di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tiap hari, ia menghabiskan waktu di rumahnya dan sesekali mengikuti pengajian di masjid dekat rumahnya.

Rosmi, begitu nenek itu akrab disapa. Ia menempati rumah yang berdiri di tanah warga lain di Desa Troso RT 9 RW 10 Kecamatan Pecangaan, Jepara sejak setahun yang lalu.

Sebelumnya, ia menumpang di rumah kerabat di Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan. Sejak Jamil, suaminya meninggal dunia lebih dari satu tahun lalu, hidupnya berpindah-pindah. Terakhir, di rumah berukuran 3X6 meter itulah ia tinggal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tubuhnya yang renta membukakan pintu saat detikcom mengunjungi rumahnya. Tak lama, ia berkisah tentang kondisinya saat ini.

"Sekitar satu tahun saya tinggal di sini. Suami meninggal dan saya tidak punya anak," katanya berbahasa Jawa, Selasa (3/4/2018).

Nenek Rosmi di rumahnya. Nenek Rosmi di rumahnya. Foto: Wikha Setiawan/detikcom

Rosmi bercerita, rumahnya itu dibelikan oleh cucu-cucu dari kerabatnya. Namun, tidak dengan tanahnya. Rumahnya itu berada di perkebunan warga lain. Untuk menuju ke sana, hanya ada jalan setapak yang hanya dapat dilewati sepeda motor atau jalan kaki.

Rumahnya bahkan nyaris roboh. Sebagian besar tiang dan dinding yang terbuat dari papan triplek dimakan rayap. Rumahnya berukuran 3X6 terbagi dua ruang. Yakni tempat tidur sekaligus ruang tamu dan di sisi kanan dapur.

Ruang tamu dan tempat tidur hanya dipisah oleh selembar selendang. Sedangkan dindingnya rapuh sebagian dimakan rayap terutama bagian bawah. Selain itu, tiang utama yang berada di tengah juga lapuk.

Lantainya masih tanah yang tak rata. Bahkan ia sempat terpeleset saat berjalan ke dapur.

"Berjalan harus hati-hati. Saya pernah jatuh terpeleset," tuturnya.

Rumah Nenek Rosmi di Jepara. Rumah Nenek Rosmi di Jepara. Foto: Wikha Setiawan/detikcom

Ia sendiri sudah tidak mampu lagi bekerja. Kebutuhan sehari-hari berpangku tangan dari rasa iba para tetangga.

"Tidak bisa bekerja. Kalau dulu saya jualan ayam, pisang, ketela dan lainnya. Kalau sekarang biasanya para pengusaha di sini kasih uang buat makan," lanjutnya.

Ia bercerita tentang jatah rastra yang diperolehnya. Namun dia tidak memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS).

"Kalau rumah memang seperti ini keadaannya. Bolong-bolong dimakan rayap. Kalau beras dapat dari RT, tapi kartu-kartu tidak ada," paparnya.

Diwawancara terpisah, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menuturkan bahwa pihaknya akan segera mendatangi lokasi bersama dinas terkait untuk melakukan pendataan dan survei.

"Kami akan segera ke lokasi untuk memastikan tindakan apa yang harus dilakukan. Sekaligus bersama dinas terkait," paparnya.

Menurutnya, bantuan yang akan diberikan disesuaikan dengan hasil kajian. Bisa jadi, akan dimasukkan ke dalam program RTLH atau bantuan sosial lainnya. RTLH sendiri tahun ini untuk 1.000 unit, yang sedianya 2.000 unit. Sebab, jika sesuai kuota maka tiap unit hanya mendapatkan Rp 7,5 juta. Sehingga supaya tiap unit mendapat Rp 15 juta kuota dari 2.000 unit menjadi 1.000 unit.

"Itu kalau dimungkinkan masuk ke dalam program RTLH. Tapi kalau keluarganya berkenan di rawat di panti jompo nanti akan ditindaklanjuti," pungkas dia. (sip/sip)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads