"Sebelum kita bawa ke Semarang (RS Kariadi), kami pastikan kondisinya terlebih dahulu di Rumah Sakit Kalisari," kata Wihaji, Bupati Batang, Senin (26/3/2018) pada detikcom di RSUD Kalisari Batang.
Wihaji mengatakan, pihaknya selama ini terus menantau perkembangan Huda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk masalah biaya pihak keluarga tidak usah kawatir karena Pemkab memiliki kartu Batang sehat," Kata Wihaji.
Bupati Batang berbincang dengan jajaran Dinkes, Dinsos dan RS Kalisari, Batang. Foto: Robby Bernardi/detikcom |
Diwawancara terpisah, Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang RSUD Kalisari Batang dr Utari mengatakan, dari hasil pemeriksaan di diagnosis ada kelainan kulit dan mata, tapi secara detail harus ada pemeriksaan lebih lanjut oleh spesialis mata dan kulit.
"Sebenarnya pasien ini sudah punya riwayat pernah periksa di rumah sakit Batang, Novemeber 2016 dirujuk ke rumah sakit Kariadi Semarang," jelas dr Utari.
Dia melanjutkan setelah dirujuk ke Semarang, pihak rumah sakit Batang tidak tahu perkembangan penyakitnya, karena sudah kewenangan dari RS Kariadi.
"Diduga pasien menderita Xeroderma pigmentosum atau penyakit yang termasuk langka yang merupakan penyakit autosomal resesif yang disebabkan oleh resus DNA," lanjutnya.
Menurut Utari, penyakit tersebut merupakan penyakit genetik sehingga tidak menular.
"Kalau dilihat secara fisik bentuknya mengerikan, sehingga masyarakat tidak usah kawatir dengan penyakitnya karena akan mengganggu psikologis pasien penderita penyakit tersebut," imbau Utari.
Usai dilakukan pemeriksaan, Huda langsung dibawa ke Rumah Sakit Kariadi Semarang. Selain pihak keluarga, Huda juga didampingi pihak RS Kalisari Batang dan Dinas Sosial Pemkab Batang. (sip/sip)












































Bupati Batang berbincang dengan jajaran Dinkes, Dinsos dan RS Kalisari, Batang. Foto: Robby Bernardi/detikcom