detikNews
Senin 26 Maret 2018, 10:56 WIB

Balita Karanganyar Ini Menderita Sirosis dan Harus Cangkok Hati

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Balita Karanganyar Ini Menderita Sirosis dan Harus Cangkok Hati Ibu Wiji Pinilih menunjukkan foto anaknya saat di rumah sakit bulan lalu. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Karanganyar - Balita berusia2 tahun, Wiji Pinilih, menderita sirosis atau gangguan pada hatinya. Untuk pengobatan, balita perempuan asal Karanganyar itu harus menjalani transplantasi hati.

Wiji tinggal bersama ayah, ibu dan dua orang kakak. Rumahnya berada di Dusun Jengglong, Desa Bejen, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar.

Saat ditemui di rumahnya, Wiji sedang beristirahat. Di balik raut wajah yang tampak seperti anak-anak lain, ternyata dia menderita sirosis dan gangguan pada saluran pencernaannya.

Sang ibu, Rini Pujiastuti, mengatakan penyakit Wiji baru diketahui sejak sebulan yang lalu setelah anaknya mengalami muntah darah dan buang air besar (BAB) berupa darah.

"Diketahui ada pembengkakan saluran cerna, pecahnya pembuluh darah di saluran cerna dan ada pembengkakan limpa. Setelah dicek endoskopi baru ketahuan ternyata juga mengalami sirosis," kata Rini, Senin (26/3/2018).

Dengan kondisi seperti ini, Wiji hanya bisa mencerna makanan yang lembut. Asupan gizi Wiji juga harus selalu dijaga agar penyakitnya tidak kambuh.

"Makanannya bubur atau sayur yang diblender. Selain itu harus minum susu khusus buat anak yang pencernaannya bermasalah. Satu kalengnya sampai Rp 300 ribu, untuk tiga hari," katanya.

Balita Wiji.Balita Wiji. Foto: Dok Ibu Wiji, Rini Pujiastuti

Cara pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan cangkok hati. Kandidat yang paling memungkinkan untuk bisa dicangkok ialah kakaknya, Amartya Zen yang duduk di bangku SMA kelas X.

Dari informasi yang ia peroleh, cangkok hati memerlukan dana sekitar Rp 900 juta hingga Rp 1,2 miliar. Penggalangan dana sudah mulai dilakukan di beberapa situs donasi.

Namun sebelum dicangkok, Wiji harus menjalani pemeriksaan khusus untuk mengetahui penyebab dan seberapa parah penyakitnya. Saat ini Rini masih menunggu rujukan dari dokter.

"Di RSUD dr Moewardi (Solo) belum pernah melakukan biopsi kepada anak balita. Makanya ini saya menunggu rujukan dulu, kemungkinan nanti di RSUD dr Sardjito Yogyakarta atau RSCM Jakarta," katanya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed