DetikNews
Senin 26 Maret 2018, 08:12 WIB

Menjenguk Bocah Penderita Kanker Kulit dan Tumor Mata di Batang

Robby Bernardi - detikNews
Menjenguk Bocah Penderita Kanker Kulit dan Tumor Mata di Batang Huda terus menangis di gendongan ibunya. Foto: Robby Bernardi/detikcom
Batang - Namanya Huda Nur Rosyid (5), anak semata wayang Ruslan Abdul Gani (34) dan Patimah (29). Huda terus menerus menangis di pelukan ibunya menahan sakit akibat kanker kulit dan tumor di kedua matanya.

Kondisinya memprihatinkan, sekujur wajah dan bagian kepala serta leher penuh dengan luka garukan karena gatal-gatal.

"Anak saya lahir normal. Tapi sejak umur 4 bulan, muncul luka di bagian pipinya. Hingga meluas seperti saat ini," kata Ruslan Abdul Gani, sembari menunjukan foto anak tersayangnya pada detikcom di rumahnya, Denasri Kulon, Kabupaten Batang, Senin (26/3/2018).

Awalnya, luka di bagian pipi tersebut hanya luka biasa. Namun lama kelamaan menjalar ke seluruh wajah dan leher anaknya.

"Gatal terus digaruk-garuk hingga menjalar ke wajah, kepala dan leher. Tangan dan kaki tidak" jelas Ruslan.

Upaya pengobatan terus dilakukan oleh Ruslan. Namun belum membuahkan hasil. Bahkan, luka di bagian wajahnya terus melebar.

"Kata dokter kena kanker. Kita sudah ke sana-ke sini mengobati belum juga sembuh," lanjutnya.

Belum juga sembuh dengan penyakit kankernya, Huda kecil saat berumur 4 tahun divonis oleh dokter terkena tumor di bagian matanya.

"Katanya (dokter) terkena tumor. Awalnya hanya satu mata bagian kanan. Terus merembet ke mata satunya. Kini dua-duanya terkena," ucap Ruslan.

Kini kondisi kedua mata Huda semakin parah. Bagian bola mata huda nampak memerah. Tidak heran bila Huda kerap menangis karena menahan rasa sakit di bagian bola mata dan wajahnya yang gatal-gatal.

Diakui Ruslan, dirinya memang menjadi salah satu peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mandiri.

"Saya ikut BPJS mandiri, anak saya juga pernah dirujuk ke Kariadi (Semarang)," kata Ruslan.

Namun sebagai seorang sales lepas dari produk makanan ringan, dirinya merasa keberatan di ongkos mondar-mandir ke rumah sakit di Semarang. Belum lagi, tidak semua obat anaknya gratis.

"Anak saya memang lagi menunggu saatnya operasi. Kata dokter di Semarang, menunggu berat badan dan kondisi fisiknya normal," katanya.

Saat ini berat badan Huda sendiri kurang dari 9 kg. Utuk membeli susu anaknya agar bisa menambah berat badan, dirasa berat oleh orangtuanya. Patimah, ibu Huda tidak bisa bekerja. Selain harus menunggu Huda di rumah, Patimah juga tunawicara.

"Ibunya tunawicara, kerjanya ya jagain Huda. Huda setiap saat menangis rewel karena gatal dan panas," kata Nur Asih, bibi Huda.

Menurut Nur Asih, berbagai obat telah diberikan namun belum juga ada perkembangannya.

"Ya kita hanya pasrah saja, syukur-syukur anak saya bisa operasi di Semarang dan berharap normal kembali," tambah Ruslan.

Kondisi Huda memang memprihatinkan. Dua penyakitnya membuat Huda tampak kesakitan dan kerap menangis. Tidak sedikit warga berkunjung ke keluarga ini untuk meberikan dukungan juga bantuan ala kadarnya. Orangtua Huda kini hanya bisa pasrah sembari menunggu dilakukan operasi pada anak semata wayangnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed