DetikNews
Rabu 21 Maret 2018, 19:43 WIB

Tak Hanya Siswa, Guru di DIY Juga Bakal Kena Zonasi

Edzan Raharjo - detikNews
Tak Hanya Siswa, Guru di DIY Juga Bakal Kena Zonasi Foto: Edzan Raharjo/detikcom
Yogyakarta - Provinsi DI Yogyakarta tidak hanya memberlakukan sistem zonasi sekolah bagi siswa baru. Namun juga akan memberlakukan zonasi bagi para guru. Zonasi guru itu bertujuan untuk pemerataan guru.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengatakan dengan diterapkan zonasi bagi guru maka para guru tidak akan menempuh jarak yang jauh untuk mengajar ke sekolah. Tujuanya adalah untuk efisiensi waktu, biaya dan lain sebagainya. Misalnya, Guru yang rumahnya di Gunung Kidul akan tetap mengajar di Gunung Kidul atau yang lainya.

"Guru itu juga zonasi besok, guru itu kalau menempuh perjalanan lebih dekat ke sekolahnya kan jauh lebih baik daripada lebih jauh. Orang Sleman ngajar di Sleman, orang Gunung Kidul ngajar di Gunung Kidul,"kata Kadarmanta Baskara Aji usai menerima auidiensi dari forum wali murid terkait zonasi sekolah di DPRD DIY, Rabu (21/3/2018).

Menurutnya, kalau murid diterapkan sistem zonasi maka guru juga perlu penerapan zonasi agar lebih efisien. Tetapi memang untuk memindahkan guru tidak boleh serempak. Salah satu pertimbangan juga jangan sampai sekolah kekurangan guru. Apalagi di DIY sebenarnya masih mengalami kekurangan guru.

"Guru kita itu kurang, tapi sering yang nengok itu bilang cukup, tapi sebenarnya itu diisi GTT. Belum tentu dibayar dengan bayaran yang sesuai,"katanya.

Sementara itu, terkait dengan persiapan UNBK di DIY, pihaknya mengatakan sudah melakukan simulasi di semua sekolah dan sudah siap untuk melaksanakanya. Tahun ini UNBK sudah dilaksanakan diseluruh sekolah dan juga pendidikan non formal.

"Kemarin kan SMP, SMA, SMK sudah 100%, tahun ini kita tambah lagi yang non formal. Kita sudah simulasi, kita sudah data secara keseluruhan dan kita simpulkan kita siap," katanya.

Mengenai sistem zonasi sekolah dinilai dalam pertemuan di DPRD DIY diungkapkan oleh perwakilan Forum Orangtua murid dinilai akan merugikan para siswa. Keinginan siswa untuk masuk sekolah favorit bisa terkendala karena zonasi. Tak hanya itu, jika zonasi diterapkan banyak desa di DIY yang mengalami blank spot zonasi sekolah.

Kebijakan zonasi sekolah di DIY dengan zona 1, zona 2 dan zona 3 jika diterapkan mengancam 35 desa di DIY alami blank spot. Forum orang tua murid meminta kebijakan zonasi dikaji ulang, Rabu (21/3/2018).

"Kalau bisa di DIY ini satu zona dengan tetap akomodasi 20% orang miskin, 5% siswa prestasi dan siswa khusus. Kalau tidak dikabulkan, mohon ditinjau ulang jangan zonasinya 5 kilometer, karena kalau itu diterapkan ada 35 desa yang blank spot, ini diskrimintatif, harus ditinjau ulang,"k ata perwakilan warga, Imam Sujangi di DPRD DIY.

Menurutnya, peraturan menteri tidak mengatur berapa jaraknya tetapi mengatur sistim zonasinya. Sehingga daerah bisa mengatur berapa jarak yang sesuai. Dengan aturan zona 1 yaitu 0-5 KM, zona 2 yakni 5-10 dan zona tiga seterusnya jelas merugikan siswa. Apalagi yang berada di desa-desa yang jauh dari sekolah akan menyebabkan blank spot zonasi. Zonasi juga dianggap menghambat keinginan siswa untuk masuk di sekolah idaman atau sekolah favorit.

"Zonasi 1 itu 0-5 KM itu jika jadi diterapkan, banyak calon peserta didik diluar zona 1 yang tertutup pintunya untuk bisa masuk sekolah-sekolah idaman. Kita harus jujur bahwa di DIY itu sekolah-sekolah idaman itu rata-rata ada di kota," imbuh Imam.

Kadarmanta Baskara Aji mengatakan memang ada kesulitan terkait dengan sekolah di DIY yang tidak merata. Sebab awal mula sekolah-sekolah itu didirikan dulunya tidak mempertimbangkan zonasi. Anak-anak di kota memiliki banyak zona. Sementara yang berada seperti di Gunung Kidul dan Kulon Progo bisa tidak memiliki zona.

"Zonasi kemungkinan akan diterapkan berbeda disetiap kabupaten/ kota, karena jika zonasi sama dengan di kota ya habislah. Di Gunung Kidul dan Kulon Progo kalau gunakan 5 KM luput, ada 35 kelurahan yang tidak punya zona. Yang paling banyak di Gunung Kidul memang," katanya.

Untuk usulan diterapkan satu zonasi di DIY, menurutnya hal itu nanti jadi tidak bermakna. Karena sistem zonasi ini memiliki manfaat, seperti menjadi lebih dekat sekolah sehingga efisiensi waktu dan biaya, kemudian juga untuk pemerataan kualitas pendidikan.

"Dengan zonasi 1 kilometer saja, anak-anak di sekitar Gondolayu, Terban itu punya banyak zona. Sementara anak-anak di Girisubo, Kokap, Samigaluh untuk sampai ke sekolah jaraknya bisa 12 KM. Ini yang kita dialogkan, itu diberi kesempatan Peraturan Menteri untuk penyesuaian. Sementara yang kita buat 5, 10 dan seterusnya itu bagian dari proses. Ada yang blank spot, ada lokasi yang tidak menjadi zona 1 dari semua sekolah bahkan zona 3 saja tidak ada, ini kita kaji," kata Baskara Aji.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed