Di Ruang Sempit dan Sepi Ini Jiwa Juang RA Kartini Tumbuh

Wikha Setiawan - detikNews
Rabu, 28 Feb 2018 08:07 WIB
Kamar pingit RA Kartini di Jepara. Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Jepara - Rumah Dinas Bupati Jepara menjadi salah satu saksi sejarah perjuangan Raden Ajeng Kartini. Di dalam bangunan yang berlokasi di komplek pendopo kabupaten ini terdapat kamar pingit pejuang emansipasi wanita tersebut.

Kamar berukuran 6x5 meter itu berada tepat di depan kamar Bupati Jepara saat ini. Pintu kamar berada di tengah dan memiliki dua daun pintu. Daun pintu utama berukuran besar mengarah ke dalam dan daun pintu berukuran kecil atau pendek mengarah ke luar.

Warna cat kamar putih kecoklatan dengan perabot yang tertata rapi. Seperti tempat tidur, lemari, meja dan kursi, meja dan cermin hias, lukisan RA Kartini, dan lukisan angsa. Selain itu ada jam gandul dan seperangkat alat batik.

Ruang Pingit RA Kartini.Ruang Pingit RA Kartini. Foto: Wikha Setiawan/detikcom

Kamar pingit itu sendiri berada di bagian belakang bangunan pendopo dan rumah Dinas Bupati. Terletak di sebelah timur alun-alun Jepara di Jalan Kartini No 1. Untuk menuju kamar pingit, dapat melalui gerbang utama pendopo kabupaten lurus ke belakang melalui samping pendopo dan rumah Dinas Bupati.

Di depan dan samping pintu masuk terdapat teras, yang saat ini diberi puluhan kursi untuk kegiatan dan menyambut tamu. Di dalam ada tempat bersantai di kelilingi ruang diantaranya kamar pingit yang berhadapan dengan kamar Bupati.


Di Ruang Sempit dan Sepi Ini Jiwa Juang RA Kartini TumbuhKamar pingit RA Kartini. Foto: Wikha Setiawan/detikcom

Di dinding samping kamar pingit tampak lemari kaca, yang biasa digunakan untuk menyimpan pakaian dengan menggantung.

Ketua Yayasan Kartini Indonesia, Hadi Priyanto menceritakan bahwa kamar itu menjadi tempat paling bersejarah bagi RA Kartini. Sejak tamat SD berusia 12 tahun, ia telah dipingit orang tuanya, Raden Mas Adipati Aryo Samingun Sosroningrat, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jepara.

Bagian luar kamar pingit RA Kartini. Bagian luar kamar pingit RA Kartini. Foto: Wikha Setiawan/detikcom

Di masa pingitan itu, perempuan kelahiran 21 April 1879 banyak menghabiskan waktunya di kamar ini. Ia tidak dapat melanjutkan sekolahnya karena terbentur adat saat itu. Perempuan seusianya harus dipingit. Dari kesepian inilah justru jiwa juangnya membara. Ia membaca buku, menulis, melukis dan membuat keterampilan seperti batik dan rajut.

"Dari ruang sempit dan sepi inilah jiwa juangnya tumbuh. Ia membaca buku, menulis, melukis dan berketerampilan," ujar Hadi Priyanto kepada detikcom di kamar pingit RA Kartini, Selasa (27/2/2018).

Buku-buku yang dibaca diperoleh dari kakaknya, Sosrokartono yang sekaligus menjadi inspirasi RA Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Jiwa juangnya pun semakin meledak.

Seperangkat alat membatik di dalam kamar pingit RA Kartini.Seperangkat alat membatik di dalam kamar pingit RA Kartini. Foto: Wikha Setiawan/detikcom

"RA Kartini semakin kritis dan berani berbicara terutama lewat tulisan mengenai emansipasi wanita. Di belakangnya memang ada kakaknya, yang juga lulus dengan menggenggam gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden," tutur Hadi.

Masa pingitannya berakhir saat Kartini berusia 24 tahun. Namun ia harus kembali melewati perubahan. Sebab, ia menikah dengan Bupati Rembang. Sang suami lantas membawa Kartini ke Rembang.

Di Ruang Sempit dan Sepi Ini Jiwa Juang RA Kartini TumbuhSalah satu sudut kamar pingit RA Kartini. Foto: Wikha Setiawan/detikcom

Keinginan Kartini tak padam. Ia menulis surat pada teman-temannya di Belanda untuk membantu mengangkat derajat perempuan Indonesia.

Pada 13 September 1904, Kartini melahirkan putranya yang dinamakan Soesalit Djojoadhiningrat. Namun empat hari menikmati masa-masanya sebagai ibu, Kartini meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Keteguhan Kartini yang tertulis dalam surat-suratnya menarik perhatian J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda dari tahun 1900-1905. Abendanon lalu mengumpulkan dan membukukan surat-surat Kartini.

Buku itu diberi judul 'Door Duisternis tot Licht'. Artinya yaitu 'Dari Kegelapan Menuju Cahaya'. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911.

Lalu pada 1922, Balai Pustaka menerbitkan buku itu dalam versi bahasa Melayu. Judul buku diterjemahkan menjadi 'Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran'.

"Untuk properti yang ada di kamar pingit sudah diperbarui karena yang asli dibawa ke Rembang. Seperti lemari buku ini 1998 dan tempat tidur 2014," ungkapnya.

Hadi juga menuturkan, menjelang Hari Kartini biasanya ada cucu atau keturunan RA Kartini yang mengunjungi kamar pingit.

"Jarang dikunjungi, tapi biasanya menjelang Hari Kartini," pungkasnya. (sip/sip)