DetikNews
Selasa 20 Februari 2018, 21:20 WIB

Seekor Elang Brontok Akan Dilepas di Hutan di Gunungkidul

Ristu Hanafi - detikNews
Seekor Elang Brontok Akan Dilepas di Hutan di Gunungkidul Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Kulon Progo -
Seekor elang brontok (Nisaetus cirrhatus) siap dilepas (release) ke alam bebas setelah menjalani proses rehabilitasi selama 4 tahun di Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogja -Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Kulon Progo. Pelepasliaran akan dilakukan pada akhir Februari 2018 di kawasan Tahura Bunder, Playen, Gunungkidul.

Sebagian persiapan, elang brontok tersebut dipasangi cincin dan penanda sayap (wing marker), serta satellite tracking.

"Pemasangan satellite tracking bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai spesies elang brontok," kata drh. Muhammad Tauhid, dari Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, melalui keterangan tertulis, Selasa (20/2/2018).

Dijelaskannya, alat satellite tracking bekerja dengan cara mengirimkan data melalui satelit ke server. Data dapat diunduh melalui movebank.org dengan akun dan password tertentu. Data yang dapat diperoleh antara lain ketinggian jelajah, wilayah jelajah, kecepatan terbang, dan suhu lingkungan. Alat satellite tracking menggunakan tenaga surya sehingga dapat bertahan lama hingga 2-3 tahun selama mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, Junita Parjanti, mengapresiasi kerja sama lintas lembaga konservasi yang ada di DIY dalam upaya konservasi satwa dilindungi.

"Ini adalah kali kedua Tim Gabungan Pelepasliaran Elang Yogyakarta bekerja bersama-sama, mulai dari cek medisnya, persiapan lapangannya termasuk survey habitat, pembangunan kandang dan lainnya untuk pelepasliaran ini," ujarnya.

Sebelumnya, pada 25 Januari lalu tim tersebut telah melepasliaran Elang Bido dan Alap-alap Sapi di kawasan Jatimulyo, Kulon Progo.

Ditambahkannya, elang brontok merupakan salah satu jenis elang yang dilindungi oleh undang-undang sesuai dengan UU no 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan PP no 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Mengenai pemasangan satellite tracking pada pelepasliaran elang brontok kali ini, Junita menjelaskan telah bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan UGM, yang mendapatkan 3 satellite tracking. Release di Yogyakarta ini adalah yang kedua di Indonesia setelah sebelumnya BKSDA Jatim yang telah menggunakan terlebih dahulu bekerja sama dengan UGM.

Nantinya data yang terkumpul dari satellite tracking yang dipasang pada elang ini dapat bermanfaat untuk para akademisi, serta para penggerak dan pelaku konservasi, khususnya untuk satwa elang. Satellite tracking merupakan kerjasama antara drh. Muhammad Tauhid dengan Prof. Martin Wikelski dari Max Planck Institute for Ornitology Jerman.

Sementara itu, salah satu tim dokter hewan YKAY, drh. Irhamna Putri Rahmawati mengatakan bahwa elang brontok yang akan dilepasliaran di Gunungkidul tersebut kondisinya cukup baik.

"Dari cek kesehatan yang sebelumnya kami lakukan, hasilnya cukup baik, negatif dari penyakit berbahaya," jelasnya.

Gunawan dari Yayasan Konservasi Elang Indonesia menambahkan, nantinya elang brontok ini akan menjalani habituasi terlebih dulu di Tahura Bunder untuk memberi kesempatan elang beradaptasi dengan calon lingkungan barunya.

"Secara umum kawasan Tahura Bunder dengan tempat rehabilitasi elang brontok ini di YKAY hampir sama, sehingga habituasinya menurut kami tidak membutuhkan waktu yang lama. Dan selama habituasi teman-teman relawan dari RAIN, PPBJ akan memantau dan melakukan penilaian akhir sebelum kita release," jelas Gunawan.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed