Penyakit Leptospirosis di Boyolali Meningkat, Begini Penularannya

Ragil Ajiyanto - detikNews
Senin, 19 Feb 2018 17:43 WIB
Ilustrasi (Foto: iStock)
Boyolali - Kasus penyakit leptospirosis di Boyolali mengalami peningkatan dalam beberapa tahun ini. Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali mencatat berbagai cara penyebaran penyakit akibat bakteri leptospira itu.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Boyolali, Sherly Jeanne Kilapong, mengatakan telah memberikan sosialisasi kepada para dokter di Boyolali dengan mendatangkan narasumber dari Provinsi, tentang penyakit leptospirosis.

"Tahun kemarin, begitu ada kasus (penyakit leptospirosis) kami undang semua dokter Puskesmas, sebagian dokter praktek swasta, poliklinik. Saya mengundang narasumber dari Provinsi untuk memberikan sosialisasi," ujar Sherly di kantornya, Senin (19/2/2018).

Selain itu, pihaknya juga melakukan sosialisasi dengan lintas sektoral. Pihaknya juga membuka rumah informasi leptospira di Kecamatan Ngemplak, yang banyak terjadi kasus penyakit ini.

"Rumah Informasi Leptospira ini ditunggu bidan desa. Di situ masyarakat bisa bertanya tentang penyakit leptospira, termasuk bagaimana pencegahannya. Juga dilakukan penyuluhan kepada masyarakat," kata Sherly.

Baca juga: 2 Bulan Terakhir, 3 Warga Boyolali Meninggal Akibat Leptospirosis


Pasien dengan gejala-gejala yang mengarah ke penyakit leptospira pun terus dipantau dan dilakukan pemeriksaan secera cermat.

Dijelaskan Sherly, penularan penyakit leptospirosis ke manusia, bisa saja kencing tikus ke air kotor saat banjir atau air sawah. Bisa juga kotoran tikus yang mengenai makanan langsung kemudian dikonsumsi manusia.

Kencing tikus di air akan menular ke manusia melalui luka pada kulit. Bakteri leptospira itu akan masuk ke tubuh manusia melalui luka tersebut.

Maka pihaknya pun mengimbau kepada masyarakat untuk terus menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hewan ternak atau peliharaan juga harus rajin dibersihkan.

"Saluran pembuangan (kotoran atau kencing) jangan dibuang ke saluran air (got) di lingkungan masyarakat. Petani ke sawah lebih baik memakai sepatu boot. Kalau ada luka jangan langsung bersentuhan dengan air kotor," imbau dia.

Lebih lanjut Sherly mengungkapkan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya bahwa penyakit leptospirosis muncul pada musim penghujan. Di musim kemarau, sudah tidak muncul lagi kasus itu.

"Tahun kemarin 34 kasus itu sebarannya sampai bulan Mei. Artinya hanya terjadi di musim penghujan," tandasnya. (mbr/mbr)