Catat! Ini Janji PKS saat Berkampanye pada Pilkada Serentak 2018

Catat! Ini Janji PKS saat Berkampanye pada Pilkada Serentak 2018

Ristu Hanafi - detikNews
Kamis, 15 Feb 2018 22:03 WIB
Catat! Ini Janji PKS saat Berkampanye pada Pilkada Serentak 2018
Jumpa pers acara Rapat Pleno Istimewa Fraksi PKS se-Indonesia di Sleman (Foto: Ristu Hanafi/detikcom)
Sleman - Masa kampanye Pilkada 2018 telah dimulai hari ini. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), M Sohibul Iman, menegaskan pihaknya tidak akan memakai black campaign dalam berkampanye pasangan calon kepala daerah yang diusung/didukung. Bagaimana cara kampanye yang dijanjikan?

"Yang saya ajukan buat PKS adalah menggunakan positive campaign, artinya lebih banyak kedepankan apa keunggulan calon-calon dari PKS," kata Sohibul Iman, saat jumpa pers di sela Rapat Pleno Istimewa Fraksi PKS se-Indonesia, di The Alana Yogyakarta Hotel, Sleman, Kamis (15/2/2018).

Positive campaign, lanjutnya, supaya masyarakat mengetahui bahwa calon yang diusung dan diukung PKS punya potensi positif yang luar biasa dan itu bisa menjadi daya tarik tersendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalaupun mau menyampaikan kelemahan lawan, kata Sohibul, batasnya sekadar negative campaign yang berarti mengungkapkan kelemahan lawan yang berdasarkan fakta dan benar adanya.

"Misalnya kelemahan lawan dia pernah korupsi, tahun sekian, itu tak masalah. Yang tidak boleh adalah black campaign, menceritakan tentang kelemahan lawan yang tidak ada faktanya, atau namanya fitnah," sebutnya.

Meski demikian, sambungnya, yang paling utama pihaknya akan mengedepankan positive campaign. "75 persen pakai postive campaign, karena kita percaya calon-calon kita potensial," ujarnya.

Sohibul menceritakan pihaknya sudah melakukan uji di salah satu daerah, calon yang diusung dikenalkan ke publik tanpa disertai potensi dimiliki dan dapat nilai X. "Tapi ketika kita kenalkan dengan track record-nya, dia dapat angka 2X. Jadi dengan positive campaign bisa mendongkrak suara," ulasnya.

Sohibul juga menegaskan pihaknya tidak akan memakai isu SARA karena hal itu akan menciderai demokrasi. Apalagi isu SARA untuk memfitnah pasangan calon lawan.

"Masalah isu SARA tidak digunakan dalam Pilkada, terutama ketika memfitnah orang dengan isu-isu tersebut. Saya kira itu tidak sehat buat kita," tandasnya. (mbr/mbr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads