Ponpes Sirojul Mukhlasin Akan Perketat Seleksi Santri

Pertiwi - detikNews
Kamis, 15 Feb 2018 19:46 WIB
Foto: Pertiwi/detikcom
Magelang - Pasca tertangkapnya Suliono, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina, kondisi pondok pesantren (Ponpes) Sirojul Mukhlasin II di Krincing, Secang, Kabupaten Magelang tetap berjalan seperti biasa. Ke depan, pihak pesantren akan lebih memperketat seleksi santri untuk menghindari kasus serupa.

"Kami akan ketatkan di dalam penerimaan santri, kemudian juga pengawasan terhadap keseharian santri. Selama ini tidak terpikir akan terjadi seperti ini dari kalangan santri, karena ajaran pondok sudah sangat bertentangan dengan ajaran yang keras dan radikal tersebut," ujar Pengasuh Ponpes Sirojul Mukhlasin II, Abdul Hamid, kepada wartawan, Kamis (15/2/2018).

Selain itu, ponpes juga akan melakukan penataan supaya pengaruh buruk dari luar tidak sampai masuk dan mempengaruhi santri yang ada.

"Pelajaran, ajaran yang ada di ponpes selama ini tidak ada yang salah. Tinggal bagaimana caranya agar pengaruh dari luar tidak sampai mempengaruhi santri," imbuh putra kedua KH Mukhlisun itu.

Abdul Hamid juga memastikan bahwa ajaran kekerasan bukanlah ajaran dari pondok pesantrennya. Hal itu, menurutnya, juga bisa disaksikan oleh masyarakat sekitar.

"Tidak pernah sedikit pun ajaran ponpes mengarah kesana (kekerasan). Masyarakat juga bisa melihat keseharian santri dan pondok. Ajaran dan suasana pondok tidak mendukung tumbuhnya paham kekerasan seperti ini. Dia (Suliono) dapatkan itu bukan dari pondok, tapi dari luar," terangnya.

"Alumni dan orangtua santri juga sudah memahami bahwa ajaran kekerasan itu bukan dari pesantren sini, tapi individu atau oknum, yang dia sendiri itu sudah bukan santri di Ponpes Sirojul Mukhlasin," tambah dia.

Seperti yang diketahui, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina, Suliono, sempat menjadi santri selama dua tahun di Ponpes Sirojul Mukhlasin II sejak tahun 2015. Suliono juga sempat dipindahkan ke Ponpes Sirojul Muhlasin I di Payaman, sebelum kemudian dikeluarkan karena tidak disiplin dan kerap melanggar tata tertib ponpes.

"Sejauh laporan yang kami dapatkan, memang dia sempat berbicara pada teman-temannya. Tapi pemikiran dan pembicaraan ini tidak cocok dengan teman-temannya, sehingga akhirnya menjadi banyak penyendiri, karena pemikirannya berlawanan ajaran ponpes," ungkap putra kedua KH Mukhlisun itu.

Selama berada di ponpes, lanjut Abdul Hamid, Suliono juga termasuk santri yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dia pun tidak sampai nyantri secara tuntas selama 7 tahun.

Dengan adanya kejadian penyerangan di Gereja Lidwina, ponpes mengaku sangat mengutuk keras. Abdul Hamid mengimbau kepada seluruh wali murid dan masyarakat untuk menjaga kedamaian, keamanan, ketenangan, dan ketertiban serta tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan.

"Ponpes tidak pernah ajarkan kekerasan dan hal-hal yang bersifat radikal, apalagi terorisme. Pondok kami memiliki pandangan positif tentang Islam Rahmatan Lil Alamin. Sejak berdiri 102 tahun lalu, pondok masih berpegang teguh dalam menganut, mengajarkan, dan menyebarkan faham Ahlusunnah Wal Jamaah, sejalan dengan pesantren NU lainnya," tegas Abdul Hamid. (bgs/bgs)