DetikNews
Senin 05 Februari 2018, 14:40 WIB

Beras OP Jadi Beras Premium, Distributor di Cilacap Dibekuk

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Beras OP Jadi Beras Premium, Distributor di Cilacap Dibekuk Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Praktek nakal menjual beras Bulog untuk operasi pasar menjadi beras premium dibongkar Satgas Pangan Polda Jawa Tengah. Beras yang disimpan di gudang di Cilacap itu diolah dan dikemas menjadi beras premium kemudian dijual ke Jawa Barat.

Pengungkapan berawal ketika tim Satgas Pangan Polda Jateng mendatangi sebuah gudang beras RMU Berkah di Dusun Suren RT 01 RW 03 Desa Tambakreja, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap pada tanggal 30 Januari 2018 lalu. Di Gudang Beras milik warga berinisial S tersebut, ditemukan praktik penggilingan ulang beras Bulog CSHP kemasan 15 kg.

Beras tersebut seharusnya disalurkan untuk operasi pasar namun diolah lagi untuk kemasan 47 kg. Karung yang tadinya bertuliskan Beras Bulog diganti kemasan karung polosan dan karung bertuliskan "Istimewa, Beras SLYP Super Cap Jago Pelung".
Beras OP Jadi Beras Premium, Distributor di Cilacap DibekukFoto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

"Beras Bulog untuk operasi pasar yang disalurkan lewat distributor, dia (pelaku) distributor, dikemas, dibersihkan, dimanipulasi dengan kemasannya jadi beras premium," kata Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono saat siaran pers di kantor Dit Reskrimsus Polda Jateng, Jalan Sukun Raya, Semarang, Senin (5/2/2018).

Kapolda menjelaskan, pelaku merupakan distributor dan rekanan Bulog untuk menyalurkan beras dalam operasi pasar. Pelaku membeli dari Bulog Rp 8.100 per kilogram. Kemudian ia mengolah beras dan tidak menyalurkannya untuk operasi pasar, namun menjualnya lagi sebagai beras premium seharga Rp 10.000 per kilogram.

"Harga dari Bulog Rp 8.100, dikemas dijual ke Jawa Barat Rp 10.000," tandasnya.

Omset yang didapatkan pelaku ternyata cukup banyak. Dalam bulan Januari 2018 saja, sudah dilakukan pengambilan beras ke Bulog sebanyak 15 kali dengan total jumlah 151,9 ton. Jika dihitung, keuntungannya mencapai Rp 288 juta dalam sebulan.

"Januari kemarin ambil 151 ton, jadi keuntungan Rp 288 juta satu bulan," pungkas Condro.

S sudah 5 tahun menjadi rekanan Bulog, namun terkait tindak pidana tersebut masih terus didalami sejak kapan berlangsung. Status tersangka juga belum disematkan kepada S, karena masih dalam pemeriksaan. Berbagai barang bukti sudah diamankan mulai dari beras dalam karung, kemasan, hingga mesin penggiling.

"Kepada mitra Bulog, distributor, silahkan membantu operasi pasar, tapi jangan dimanipusai," tegas Condro.

Sebagai pelaku, S terancam Pasal 144 UU nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan dan ancaman pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp 6 miliar dan atau pasal 110 UU nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan dengan ancaman oidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp 5 miliar dan pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) huruf a UU RI nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2 miliar.

"Ini daerah pemasarannya meliputi Sukabumi dan Bogor," tambah Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Lukas Akbar Abriari.
(alg/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed