Seperti rumah milik Tugiran (55), warga Dusun Selorejo, Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman terpaksa membongkar sebagian rumah miliknya karena ancaman tanah retak. Kandang kayu di samping rumahnya juga kini rata dengan tanah setelah dibongkar karena miring dan hampir ambruk dilewati retakan tanah.
"Semakin hari, tanah semakin larut. Kandang di samping rumah saya sampai miring sehingga saya bongkar," jelas Tugiran, di rumahnya, Kamis (1/2/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama satu bulan ini, tiang dapur sudah ambles sampai tujuh kali. Sementara saya angkat dan diberi ganjalan. Terasa sekali retakan tanahnya," ungkap Tugiran.
Dia menyebutkan, retakan tanah menyasar pintu dapur dengan panjang sekitar 5 meter dan lebar 7 centimeter.
Kondisi tersebut membuat Tugiran mengungsikan tiga anggota keluarganya ke tempat lebih aman. Sementara dirinya tetap berjaga di rumah.
"Saya berjaga di rumah sambil mengawasi keadaan sekitar. Kalau hujan turun, pintu selalu dibuka agar memudahkan menyelamatkan diri, harus mencari posisi aman," imbuhnya.
Foto: Pertiwi/detikcom |
Ketua Komunitas Relawan Garuda Bukit Menoreh, Soim menambahkan, retakan tanah tidak hanya mengancam rumah Tugiran namun juga ruas jalan utama penghubung Kecamatan Salaman dan Kecamatan Borobudur.
"Jika dibiarkan, retakan tanah akan semakin melebar dan mengancam aliran air sungai di bawah retakan. Material tanah bisa sampai menutup 2 sungai dengan lebar 5 m, dan 3 m. Jika tertutup material maka airnya meluap ke pemukiman penduduk," kata Soim.
Dia mengaku sudah melaporkan kondisi ini ke Pemerintah Kabupaten Magelang. Retakan yang terjadi ada di dua titik, yakni memanjang sekitar 100 meter di lokasi rumah Tugiran dan di ruas jalan alternatif sepanjang 40 meter. Tanah bergeser sekitar 15 cm, dan amblas 17 cm.
"Retakan tanah ini mengancam sebanyak 18 rumah dengan 75 jiwa. Diantara mereka ada anak-anak dan para lansia," jelas dia. (bgs/bgs)












































Foto: Pertiwi/detikcom