Retakan tanah di perbukitan Menoreh ini membuat ruang kepala sekolah dan beberapa ruang kelas di Madrasah Aliyah Al Iman, Desa Margoyoso terancam longsor.
"Retakan tanah ini sebenarnya sudah mulai muncul sejak satu tahun silam. Sempat ditambal dengan tanah agar tidak melebar, beberapa hari belakangan ada lagi retakan tanah," jelas Kepala Tata Usaha Yayasan Perguruan Al Iman Muttaqin, kepada detikcom di kompleks sekolah, Senin (30/1/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat retakan ini, sejumlah sudut sekolah mengalami kerusakan. Mulai dari pralon air pecah, lantai tegel pecah, dan sudut pagar pembatas lepas.
"Lantai di salah satu sudut juga amblas. Sudah ditambal tapi tanah terus retak," ungkap Muttaqin.
Untuk diketahui, bangunan MA Al Iman dibangun di atas jalan, yang terdiri dari 11 ruang kelas. Jumlah siswa dari kelas 1-3 terdapat 154 siswa. Muttaqin berharap segera mendapatkan perhatian pemerintah atas potensi bencana di gedung sekolahnya ini.
"Rasa was-was itu ada. Khawatir jika retakan tambah lebar," ujarnya.
Kepala MA Al Iman Margoyoso Hilmi Masykur mengaku sudah berupaya mengajukan bantuan ke Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah tahun lalu. Namun demikian, hingga kini belum ada realisasi.
"Harapan kami sekolah segera mendapat bantuan. Agar nantinya bisa membangun penahan, senderan dan perbaikan irigasi," jelasnya.
Diwawancara terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Edi Susanto mengatakan, tanah retak juga mengancam Dusun Selorejo di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman.
"Tanah retak ini mengancam permukiman warga. Potensi kerawanan dari retakan tanah ini adalah membendung sungai dan menambah risiko bencana berupa banjir bandang yang akan mengancam 13 rumah warga di bawah sungai," terang Edi melalui pesan singkat kepada detikcom.
Menurut analisa, lanjut Edi, gerakan tanah ini disebabkan karena kondisi geologi batuan di bawahnya yang berupa lempeng batuan marmer kedap air. Sehingga menjadi bidang gelincir bagi lapisan tanah diatasnya.
"Hal ini ditandai dengan adanya mata air di batas antara batuan dan tanah. Sejauh ini sudah ada usulan untuk pemasangan Early Warning System (EWS) di lokasi retakan tanah untuk antisipasi peringatan dini," kata Edi. (sip/sip)











































