DetikNews
Rabu 17 Januari 2018, 19:41 WIB

Cerita di Balik Air Pablengan di Semarang untuk Pembuatan Karak

Eko Susanto - detikNews
Cerita di Balik Air Pablengan di Semarang untuk Pembuatan Karak Mbah Munirah di lokasi pengambilan pablegan. Foto: Eko Susanto/detikcom
Semarang - Air pablengan telah digunakan warga untuk gendar maupun karak yang merupakan kerupuk berbahan beras secara turun temurun.

Berdasarkan pantauan detikcom, Rabu (17/1/2018) di lokasi pablengan tersebut terdapat tiga kolam kecil yang airnya tampak mendidih mengandung belerang. Jika dicicipi air rasanya asin dan air tersebut yang dimanfaatkan warga untuk membuat gendar maupun karak. Kendati terdapat tiga kolam, sejauh ini yang diambil hanya air di dua kolam saja.

Keberadaan pablengan tersebut di sekitar persawahan dan berdekatan dengan jalan menuju kampung. Saat ini, telah dibuat fondasi di sekitar pablengan. Hal ini untuk memudahkan akses saat mengambil air tersebut.

"Saya ini setelah Subuh terus menuju sini menunggui. Soalnya kalau tidak ditunggui ada orang yang mandi," kata Mbah Munirah (70), warga, setempat yang sejak 7 bulan lalu, menunggui di pablengan saat ditemui di lokasi, Rabu (17/1/2018).

Mbah Munirah di lokasi pengambilan pablegan.Mbah Munirah di lokasi pengambilan pablegan. Foto: Eko Susanto/detikcom

Untuk orang yang mengambil air pablengan tersebut, bukan hanya warga sekitar. Ada juga yang datang dari Ambarawa, Ungaran, Salatiga, bahkan Kota Semarang. Air tersebut diambil menggunakan jeriken maupun tempat lainnya, kemudian diendapkan terlebih dahulu kemudian dimasak.

Setelah air dingin, baru digunakan untuk membuat gendar maupun karak. Kendati demikian, ada juga yang langsung dipakai setelah mengambil air diendapkan lalu digunakan untuk menanak nasi dibuat karak.

"Kalau setelah mengambil dimasak sampai mendidih, terus didinginkan kemudian ditaruh tempat bisa bertahan sampai 2 tahun. Kemarin datang dari Semarang yang mengambil, terus airnya mau dikirim menuju anaknya yang berada di Kalimantan," tutur Mbah Munirah.

Menurutnya, ada juga yang datang mengambil air tersebut dengan mobil dan mengambil hingga 15-20 jeriken. Mereka saja yang mengambil air tersebut, biasanya memberikan uang seikhlasnya. Adapun uang tersebut, setelah sore dibagi berdua dengan pemilik lahan.

"Pernah pas sepi hanya dapat Rp 2.000, ya kami bagi berdua. Tapi kalau ramai sampai bisa dapat Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu," ujarnya.

Untuk saat ramai, diakui dia, ketika bulan Ramadan menjelang Lebaran. Biasanya orang antre mengambil untuk membuat makanan menjelang Lebaran.

"Kalau pas Puasa ramai, banyak yang mengambil air ini," tutur dia.

Mbah Munirah di lokasi pengambilan pablegan.Mbah Munirah di lokasi pengambilan pablegan. Foto: Eko Susanto/detikcom

Salah seorang warga, Tuminah (40), mengatakan, sudah sejak lama memakai air pablengan untuk membuat karak atau gendar.

"Saya terkadang mengambil air untuk buat gendar atau karak," tuturnya.

Seorang pembuat karak lainnya, Mbah Murah (75), mengakui, sering mengambil air tersebut. Ia pun telah puluhan tahun mengambil air tersebut untuk membuat karak.

"Saya sudah sejak lama mengambil air dari situ untuk membuat karak. Tapi sudah seminggu ini, saya nggak membuat karena sedang nggak enak badan. Sudah banyak yang kecelik ke sini karena karak nggak ada," kata Mbah Murah, warga Kaliulo, Klepu, Pringapus itu.

Untuk membuat karak, kata dia, terkadang hanya membuat sekitar 3 kg beras. Adapun karak yang telah jadi biasanya diambil warga sekitar yang membutuhkan.

"Biasanya pada mengambil kesini. Ini malah air blengnya masih ada di jeriken," ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang, dr Ani Raharjo mengatakan, Dinkes belum pernah melakukan pengujian air pablengan tersebut.

"Kami akan mengambil sampling di lokasi," kata Ani dalam pesan singkatnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed