DetikNews
Minggu 14 Januari 2018, 18:56 WIB

Kenangan Penyair Darmanto Jatman di Mata Sang Putra

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kenangan Penyair Darmanto Jatman di Mata Sang Putra Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Penyair Darmanto Jatman tutup usia dengan berbagai karya dan kenangannya. Guru Besar Emeritus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini sangat berkesan bagi putra keduanya, Ariyaning Arya Kesra.

"Bapak itu kalau berpesan tidak pernah eksplisit, selalu pakai sanepo, perumpamaan. Bapak di satu sisi sangat relijius, di satu sisi sangat liberal," kata Arya saat ditemui di rumah duka, Jalan Menoreh Raya 73 Semarang, Minggu (14/1/2018).

Arya mengenang, ayahandanya mengajar 5 anaknya tanpa paksaan dan sering mengajak berbincang soal psikologi Jawa. Menurutnya sang ayah punya cara sendiri mempelajari kehidupan dengan kearifan lokalnya.

"Bapak mengajar dengan sangat Jawa. Kalau diajari dengan metode pendidikan, ada teach and learn," katanya.

Selain dihormati keluarga, lanjut Arya, banyak juga orang yang datang berkunjung hanya untuk sekedar berbincang atau mampir. Bukan sembarang orang, tamunya bisa orang-orang penting yang kebetulan ada di Semarang.

"Bapak itu juga sering mengkritik. Kritiknya nylekit, tapi itu yang ngangenin," kenang Arya.

Maka tidak heran tamu terus berdatangan bergantian ke rumah duka. Menurut Arya, sejumlah budayawan sudah sempat datang seperti Prie GS, Trianto Tiwikromo, Handy TM, dan lainnya.

Karangan bunga pun berjajar mengelilingi rumah duka antara lain dari Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, putri (alm) Gus Dur, Yenny Wachid dan lain-lain.

"Bapak dekat sama Gus Dur karena bareng di Interfidei. Kalau Pak Tjahjo itu muridnya bapak," kata Arya.

Terkait kondisi terakhir Darmanto sebelum meninggal, Arya mengungkapkan pada tahun 2007 almarhum terserang stroke. Kemudian tahun 2016 diketahui juga mengidap kanker kandung kemih. Usaha sudah dilakukan namun kanker sudan masuk stadium 4.

Produktifitas Darmanto dalam berkarya menurun drastis sejak tahun 2007. Padahal menurut Arya, ayahnya sangat ingin sekali menulis dan menghasilkan karya seni.

"Setelah stroke, (kondisinya) mundur sekali. Recovery berat, bapak tidak bisa berkarya lagi," ungkap dia.

Natal 25 Desember 2017 lalu merupakan kenangan hari keagamaan terakhir Arya bersama ayahnya. Menurutnya kala itu Darmanto kondisinya baik dan menebar senyum.

"Bapak waktu itu kondisi masih baik. Masih senyum dan bahagia dan menyanyi. Setelah tahun baru, memburuk," katanya.

Darmanto Jatman masuk ke RSUP d. Kariadi Semarang sejak 3 Januari 2018 lalu. Penyair itu meninggal dalam usia 75 tahun hari Sabtu (13/1) kemarin pukul 16.45 WIB.

Rencananya jenazah akan disemayamkan di Auditorium Undip Pleburan hari Senin (15/1) besok. Pukul 11.00 WIB. Almarhum akan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Undip di Tembalang.

Bagi Undip, Darmanto sangat dihormati karena menjadi Guru Besar Emeritus Undip. Ia juga tokoh yang merintis Prodi Psikologi Undip dan menjadi kepala prodi pertama.
(alg/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed