DetikNews
Minggu 14 Januari 2018, 11:55 WIB

Doa Lintas Iman, Warga Jepara Berharap 2018 Tak Ada Isu Perpecahan

Wikha Setiawan - detikNews
Doa Lintas Iman, Warga Jepara Berharap 2018 Tak Ada Isu Perpecahan Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Jepara - Ribuan warga di Desa Dermolo Kecamatan Kembang, Jepara menggelar doa bersama lintas agama. Warga masyarakat dari tiga agama yakni Islam, Budha dan Kristen itu berdoa bersama-sama.

Mereka berharap pada tahun 2018, yang juga memasuki tahun politik itu tidak ada isu perpecahan antar umat beragama. Mereka pun berharap kerukunan warga terjalin dengan baik tanpa ada gesekan lagi.

Doa tersebut berlangsung di lapangan Desa Dermolo Kecamatan Kembang. Desa yang dihuni 5.420 jiwa saat ini kembali hidup rukun. Meski beberapa tahun lalu sempat terjadi gesekan sehingga merenggangkan hubungan antar pemeluk agama di desa itu.

Doa berama berlangsung khusyuk dipimpin oleh tiga pemuka agama, yakni KH Mustain (Islam), Romo Sundoko (Budha) dan David Sriyanto (Kristen). Selain itu, perwakilan dari masing-masing agama menandatangan ikrar perdamaian. Di puncak acara, ketiga pemeluk agama yang hadir secara bersama-sama menerbangkan lampion.

Kepala Desa Dermolo, Hadi Patenak menuturkan bahwa memasuki tahun politik saat ini sangat rentan terjadi isi sara yang dapat memecah belah umat. Untuk itu, warga di desanya yang memiliki keberagaman keyakinan agama lebih dini berikrar untuk sama-sama menjaga situasi yang kondusif.

"Doa bersama lintas agama ini dilakukan dengan harapan supaya tahun politik yang di Jateng ada Pilgub bisa aman dan lancar, tidak ada isu sara yang memecah umat," ujarnya usai acara doa bersama, Sabtu (13/1/2018) malam.

Menurutnya, pemanfaatan isu sara terutama agama akhir-akhir ini digunakan untuk mendulang kemenangan dalam pesta demokrasi. Namun berdampak buruk terhadap kerukunan antar umat di masyarakat secara langsung.

"Kami berharap tidak ada perpecahan. Sebagai umat beragama harus dapat saling menjaga. Jangan sampai dipecah belah oleh isu-isusara," lanjutnya.

Dia menambahkan di Desa Dermolo sendiri juga sempat diterpa masalah yang berkaitan dengan perbedaan agama pada sekitar tahun 2002 lalu. Masalah tersebut berlanjut hingga tahun 2015. Akibatnya hubungan antar warga menjadi kurang harmonis.

"Sempat ada ada konflik dulu soal pendirian gereja. Tapi lambat laun konflik itu bisa diredam. Dan kini kami sudah hidup berdampingan," ungkapnya.

Menurutnya untuk menjaga kerukunan warga saat ini sudah ada pertemuan secara rutin dua minggu sekali bagi ketiga pemeluk agama tersebut.

"Jadi, doa bersama lintas agama ini kami lakukan untuk menjaga keharmonisan warga yang sudah terjalin dengan baik. Jangan sampai isu sara yang nanti muncul di tahun politik dapat merusak yang sudah tertata baik di desa ini," katanya.

Pihaknya berharap, kondisi yang sudah kondusif dan tenteram tersebut supaya terus dijaga. Mengingat sebentar lagi ada Pemilihan Gubernur Jawa tengah pertengahan tahun ini

"Jangan sampai terpecah belah. Kami ingin hidup berdampingan meski beda keyakinan. Tahun 2018 ini akan ada pesta demokrasi, jadi kami semakin merekatkan hubungan supaya tambah rukun," pungkas diaa.



(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed