Mobilitas warga terutama pelajar menjadi terhambat karena beberapa akses jalan rusak dan terputus. Pelajar SMP, SMA dan SMK yang hendak bersekolah di lain daerah juga terhambat.
Mereka harus berangkat lebih awal karena harus berjalan kaki 2-3 kilometer sebelum sampai desa terdekat tempat pemberhentian angkutan. Belum lagi medannya yang naik turun bukit dan jalan becek. Sebagian pelajar ini memilih menggunakan sandal terlebih dahulu. Sepatu dimasukkan ke dalam tas.
Foto: Uje Hartono/detikcom |
Salah satunya dilakukan pelajar asal Desa Suwidak, Aman Suripno. Pelajar kelas 9 di SMPN 1 Karangkobar ini harus rela berangkat lebih pagi dari biasanya. Jika sebelum terisolir berangkat sekitar jam 06.00 WIB saat ini harus berangkat 05.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, ia mengaku was-was saat berjalan di jalur alternatif tersebut. Ia khawatir jika tanah yang sementara ini digunakan untuk jalur alternatif juga ikut bergerak.
"Meski jaraknya jauh dengan titik tanah gerak tapi tetap takut," ujarnya.
Siti Marfungah, pelajar SMK Wanayasa juga menuturkan harus berjalan 3 kilometer melalui jalan setapak. Padahal sebelumnya kendaraan bisa sampai ke desanya.
"Karena jalan putus terpaksa kami jalan kaki dulu sebelum naik kendaraan di Desa Bantar," terangnya.
Jalur alternatif tersebut dibuat oleh BPBD Banjarnegara, warga dan sejumlah relawan karena tanah gerak dan memutus jalur ke Dusun Sikenong, Desa Bantar dan Desa Suwidak Kecamatan Wanayasa. Setelah sampai di desa lain, mereka kemudian melanjutkan naik angkudes atau mini bus.
Berdasarkan keterangan kades Suwidak Rip Santosa di desanya ada 94 pelajar di tingkat pertama dan tingkat atas. Sebagian masih di Desa Suwidak namun sebagian sudah tinggal di rumah saudara di luar Desa Suwidak. (bgs/bgs)












































Foto: Uje Hartono/detikcom