DetikNews
Rabu 20 Desember 2017, 12:56 WIB

Bimsalabim! Istana Negara 'Pindah' ke Wonosobo

Uje Hartono - detikNews
Bimsalabim! Istana Negara Pindah ke Wonosobo Balai Desa Sukoharjo di Wonosobo, Jawa Tengah. Foto: Uje Hartono/detikcom
Wonosobo - Sebuah bangunan serba putih lengkap dengan pilar-pilar bak Istana Negara bisa dijumpai di Wonosono, Jawa Tengah. Siapa sangka bangunan tersebut adalah balai desa.

Balai Desa Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo memang tampak mencuri perhatian.

Berbagai kemiripannya dengan Istana Negara dapat dilihat dengan jelas.



Sebut saja tiang penyangga yang dicat putih serta bentuk pintu dan jendela klasik menyulitkan saat membedakan antara balai desa Sukoharjo dengan Istana Negara. Belum lagi, bangunan balai desa yang berada di Jalan Raya Sukoharjo memiliki anak tangga di bagian depannya seperti di Istana Negara.

Kemiripan dua bangunan itu tidak hanya pada hal-hal besar namun juga pada hal kecil. Hiasan Burung Garuda sebagai lambang negara juga terpampang di tembok balai desa tersebut.

Belum lagi dua kolam yang ada di depan sisi kanan dan kiri membuat gedung Balai Desa Sukoharjo semakin cantik.

Tidak heran jika keunikan gedung balai desa mendapat perhatian warga. Tidak hanya warga Desa Sukoharjo, namun juga warga dari luar desa hingga kecamatan datang untuk sekadar berfoto di depan gedung balaidesa.

"Banyak orang berdatangan ke sini untuk selfie, terutama pelajar SMA," kata Sekdes Sukoharjo Sidik Pramono saat ditemui di ruang kerjanya Rabu (20/12/2017).

Disampaikan, pemerintah desa Sukoharjo sengaja membuat gedung balai desa menyerupai Istana Negara. Menurutnya, selain unik juga menimbulkan kesan wibawa dengan tiang-tiang besar yang berjejer di bagian depan gedung. Apalagi gedung balai desa sebelumnya sudah tidak layak karena usia bangunannya yang tua.

Balai Desa Sukoharjo, Wonosobo. Balai Desa Sukoharjo, Wonosobo. Foto: Uje Hartono/detikcom

"Biasanya gedung balai desa kesannya kumuh padahal untuk pelayanan warga. Mestinya dibuat yang bersih dan nyaman," tuturnya.

Sidik mengatakan, gedung yang memiliki 5 ruangan ini dibangun tiga tahap. Yakni pada tahun 2015 dengan anggaran Rp 150 juta, 2016 Rp 250 juta serta tahun 2017 Rp 25 juta.

Resmi ditempati untuk melayani warga pada awal tahun 2017.

"Sedangkan kursi dan meja putih di depan balai desa biasanya digunakan untuk rapat. Tetapi demi keamanan sengaja kami tali jika sedang tidak digunakan," jelasnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed