Memutus Siklus DBD, Para Ahli Serangga di Yogya Melakukan Hal Ini

Edzan Raharjo - detikNews
Rabu, 13 Des 2017 16:17 WIB
Ember-ember beisi telur nyamuk berwolbachia (Foto: Edzan Raharjo/detikcom)
Sleman - Sebanyak 5.700 ember berisi telur nyamuk aedes-aegypti yang telah mengandung bakteri wolbachia yang selama ini dititipkan kepada warga di beberapa wilayah di Kota Yogyakarta telah ditarik. Eliminate Dengue Project Yogyakarta (EDP Yogya) masih menunggu keampuhannya untuk mengendalikan demam berdarah dengue (DBD) di daerah tersebut.

Pada penelitian ini Yogyakarta dibagi menjadi 24 wilayah, separuh di antaranya mendapat titipan telur wolbachia. Ember-ember tersebut selanjutnya diamati dua pekan sekali dan diganti telurnya dengan yang baru selama masa penitipan tujuh bulan atau sejak Maret 2017 lalu.

Ahli Serangga EDP Yogya, Warsito Tantowijoyo, mengatakan saat ini sudah tidak ada ember yang dititipkan di rumah-rumah warga. Ribuan ember berisi telur nyamuk aedes-aegypti ber-wolbachia ditarik karena wolbachia saat ini sudah mencapai stabil di atas level cukup tinggi. Pada level tersebut tidak perlu dilakukan penyebaran nyamuk wolbachia lagi karena akan berkembang dengan sendirinya.

"Saat ini sudah stabil di atas 60%, sudah konsisten di atas 60%. Kita masih butuh waktu dan proses untuk ke depanya. Kita masih melakukan pemantauan, monitoring untuk wolbachia maupun dengue sampai beberapa tahun ke depan,"kata Warsito Tantowijoyo di Insektarium EDP Yogya, Sekip N-14, Sleman, DIY, Rabu (13/12/2017).

Memutus Siklus DBD, Para Ahli Serangga di Yogya Melakukan Hal IniTelur nyamuk ber-wobachia. (Foto: Edzan Raharjo/detikcom)

Untuk memantau nyamuk dan proporsi wolbachia ini dipasang alat dan setiap pekan diambil untuk dideteksi. Pemantauan dilakukan sampai 2019 mendatang. Untuk mengetahui efektifitas wolbachia ini masih harus menunggu 2 tahun ke depan. "Pengambilan kesimpulan mungkin keitar tahun 2019," katanya.

Ahli epidemologi, Riris Andono Ahmad, mengatakan saat ini yang dilakukan monitoring dan melihat dampaknya sampai 2 tahun ke depan. Minimal dibutuhkan waktu 2 kali siklus demam berdarah dengue (DBD) untuk memastikan bahwa dampaknya itu konsisten.

"Sekarang kita tahap memonitor dampaknya dengan melakukan pengamatan di Puskesmas, kira-kira kasus demam berdarah dengue itu lebih banyak terjadi di mana, apakah lebih banyak yang dilepasi nyamuk atau daerah-daerah yang tidak ada nyamuknya," Riris Andono.

EDP-Yogya merupakan penelitian kolaboratif beberapa negara yang bertujuan untuk menekan infeksi dengue. Walcobhia disuntikkan ke dalam tubuh nyamuk aedes-aegypti yang kemudian dilepas di beberapa lokasi penelitian. Diharapkan nyamuk ini akan kawin dengan nyamuk setempat dan menghasilkan keturunan yang mengandung Wolbachia.

Metode ini diklaim aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Tujuan akhirnya adalah mampu menekan penyebaran virus dengue pada manusia. (mbr/mbr)